Pemanfaatan Eko-Biogas Sebagai Alternatif Bahan Bakar Alami di Lereng Selatan Gunung Merapi

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia. Sebelum ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Merapi, kawasan hutan di wilayah yang termasuk propinsi DI Yogyakarta ini terdiri dari fungsi-fungsi hutan lindung seluas 1.041,38 ha, cagar alam (CA) Plawangan Turgo 146,16 ha; dan taman wisata alam (TWA) Plawangan Turgo 96,45 ha. Kawasan hutan di wilayah Jateng yang masuk dalam wilayah Taman Nasional ini merupakan hutan lindung seluas 5.126 ha. Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tersebut termasuk wilayah kabupaten-kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah, serta Sleman di Yogyakarta. Posisi geografis kawasan TN Gunung Merapi adalah di antara koordinat 07°22’33” – 07°52’30” LS dan 110°15’00” – 110°37’30” BT. Sedangkan luas totalnya sekitar 6.410 ha, dengan 5.126,01 ha di wilayah Jawa Tengah dan 1.283,99 ha di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagian besar masyarakat di Lereng Gunung Merapi khususnya Lereng Selatan Gunung Merapi adalah petani dan peternak yang mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari sumberdaya alam Gunung Merapi. Salah satu kebutuhan dasar yang dipenuhi dari sumber daya alam Gunung Merapi adalah kayu sebagai bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari. Bahan bakar kayu merupakan bahan bakar utama selain minyak tanah (BBM) untuk  memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan akan bahan bakar terutama kayu yang cukup besar menyebabkan berkurangnya kualitas hutan di lereng Gunung merapi. Data yang ada dari hasil surve menunjukkan kebutuhan akan BBM dan bahan bakar kayu di lereng Gunung Merapi sangat besar, seperti pada table dibawah ini :

No. Jenis bahan bakar Harga (Rp.) Pemakaian per hari
1 Kayu 5  ribu/ikat 1 ikat
2 BBM/minyak tanah 9 ribu/liter 1 iter
3 Gas 14 ribu/3kg 1-1,5 bulan

*Data Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Selain tekanan terhadap alam, tekanan masyarakat terutama masyarakat ekonomi bawah juga semakin besar seiring dengan meningkatnya harga bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari. Oleh karena itu diperlukan adanya sebuah alternatife bahan bakar yang mudah dan murah serta ramah lingkungan untuk mengganti BBM dan kayu dalam rangka mengurangi tekanan terhadap alam serta membantu ekonomi masyarakat.

Salah satunya adalah biogas :

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari/oleh mahluk hidup dalam artian bahan bakunya berasal atau merupakan produk dari mahluk hidup. Sedang energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari hasil pembusukan/dekomposisi sisa mahluk hidup/kotoran mahluk hidup yang mana dalam proses yang berlangsung secara anaerob akan dihasilkan gas yaitu gas methana (CH4). Yang mana gas ini memiliki kemampuan sebagai suatu sumber energi, dan dengan bantuan suatu alat dapat diubah menjadi bahan bakar.

Penggunaan biogas untuk pemenuhan keperluan energi rumah tangga sehari-hari sangat sesuai karena penggunaan biogas akan memunculkan kemandirian terhadap kebutuhan energi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu penggunaan biogas sangat ekonomis  karena akan mengurangi pengeluaran untuk pembelian bahan bakar serta dapat mengurangi pencemaran udara akibat residu yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, sehingga sangat ramah lingkungan.

 

Biogas Yang Ekonomis  (EKO-BIOGAS Kanopi Indonesia)

Biogas sudah banyak dikenalkan kepada masyarakat dengan berbagai model instalasi, akan tetapi timbul permasalahan ketika biaya atau modal untuk membuat instalasi biogas sangat mahal. Umumnya masyarakat menggunakan model biogas permanen yang menghabiskan lebih dari sembilan juta rupiah (Rp. 9.000.000;), sehingga masyarakat yang kurang mampu tidak mampu untuk membuatnya. Oleh karena itu diperlukan model biogas yang murah sehingga semua kalangan masyarakat mampu membuatnya.

“Oleh karena itu diperlukan model biogas yang murah sehingga semua kalangan masyarakat mampu membuatnya.

 

Model instalasi eko-biogas ini menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat. Diantaranya adalah dengan menggunakan plastik tubuler atau plastik polyethylene yang mudah didapat ditoko-toko sebagai tangki penampung, kemudian pipa pvc untuk pipa saluran biogas,dan lain-lain. Dengan menggunakan bahan-bahan yang murah ini masyarakat hanya membutuhkan biaya kurang lebih satu juta rupiah (Rp.1.000.000;) saja, dan dengan menggunakan bahan plastik sebagai tangki penampung, instalasi ini mampu bertahan hingga kurang lebih 7 (tujuh) tahun.

Selain di Lereng Selatan Gunung Merapi, eko-biogas ini juga sudah di terapkan di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, Manado Sulawesi Utara, Pekalongan Jawa Tengah, dan tempat lain dengan  hasil yang sama bagus.

Dengan adanya penerapan teknologi biogas yang ekonomis dan ramah lingkungan ini, diharapkan akan membantu mengurangi  tekanan ekonomi masyarakat dan juga mengurangi  tekanan pada alam agar selalu lestari.

 

ESTIMASI KONVERSI ENERGI EKO-BIOGAS (KANOPI INDONESIA 2009)

Kapasitas Digester : + 2750 liter

Kapasitas Penampung Gas : + 1375 liter

Volume gas dihasilkan perhari : + 687,5 liter

Penambahan kotoran / pengisian digester 80 liter ( 40 liter kotoran padat + 40 liter air) per minggu, diisikan satu minggu sekali atau dua kali

Lama pembakaran gas perhari : + 3 jam (+ 687,5 liter gas dinyalakan sampai habis)

Konversi penggunaan biogas dalam sehari (3 jam) :

  1. Setara dengan penggunaan minyak tanah 0,75 liter atau seharga Rp. 6.750,-
  2. Setara dengan penggunaan kayu bakar + 25,7 batang (tiap batang panjang + 50 cm, diameter + 4 cm) atau seharga Rp. 4.258,71

 

 

 

Konsep Eko-Biogas ini juga telah diterapkan di Kabupaten Bantul, Sulawesi Tenggara dan juga Sulawesi Utara dengan hasil yang sangat memuaskan.

Comments are closed.