Pendampingan Kelompok Petani Anggrek Alam Gunung Merapi

Desa Turgo, Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta

Tanaman anggrek sudah lama dikenal masyararakat Turgo. Tanaman hias yang banyak tumbuh liar di sekitar lereng Merapi tersebut sebagian sudah dibudidayakan oleh warga masyarakat Turgo yang terutama di sekitar pekarangan rumah mereka. Ada juga beberapa jenis anggrek yang tumbuh secara alami menempel pada pohon pohon di pekarangan rumah ataupun di pinggir jalan perkampungan. Terdapat jenis anggrek yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Turgo yaitu Anggrek Pandan (Vanda tricolor). Disebut Anggrek Pandan karena bentuk pohonnya menyerupai pohon Pandan. Umumnya masyarakat sudah membudidayakan jenis anggrek ini di halaman rumah mereka. Anggrek anggrek ini dulunya diperoleh dari kawasan hutan di Gunung Merapi. Disamping sebagai hiasan di rumah, sebagaian anggrek tersebut ternyata juga dijual kepada masyarakat dari luar kawasan yang terutama dari kota Yogya dan sekitarnya.

Vanda tricolor adalah jenis anggrek yang sangat mudah dibudidayakan. Masyarakat umumnya menanamnya dengan cara menempelkan pada potongan akar pakis atau juga ditempelkan pada pohon pohon di halaman rumah. Salah satu usaha untuk perbanyakan dilakukan dengan cara stek batang. Cara lain yang kemudian dilakukan adalah dengan menaburkan biji biji anggrek di sekitar perakaran. Setelah dua sampai tiga bulan kemudian, pada media pakis akan muncul anakan anakan baru hasil dari perkecambahan biji induknya. Cara ini lebih efektif daripada cara perbanyakan dengan cara stek batang.

Dalam perkembangannya, anggrek anggrek di lereng selatan Merapi banyak di minati oleh para penggemar anggrek dari luar kawasan. Penjual ataupun kolektor anggrek mendatangi masyarakat untuk langsung membeli anggrek yang ada ataupun juga terkadang memesan kepada warga untuk mencarikan jenis anggrek yang diinginkan dari hutan di Gunung Merapi.

Keadaan seperti sangat mengkhawatirkan populasi anggrek di habitatnya. Seringnya masyarakat mengambil anggrek tanpa memperhatikan populasinya di alam. Selain itu mengambil langsung di alam lebih mudah dan cepat daripada harus mengembangkan terlebih dahulu di rumah mereka.

Tergerak oleh upaya pelestarian anggrek Merapi, beberapa warga masyarakat Turgo berinisiatif membentuk suatu wadah untuk usaha pelestarian anggrek Merapi. Mereka membentuk kelompok yang disebut Kelompok Petani Anggrek Turgo. Kelompok ini sudah dibentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Di salah satu rumah anggotanya dibuatlah semacam rumah anggrek (greenhouse) untuk mengkoleksi dan memelihara anggrek anggrek alam dari Merapi. Usaha budidaya dan perbanyakannya dilakukan secara sederhana. Upaya pelestarian anggrek tersebut mendapat dukungan dari BKSDA Yogyakarta saat itu. Namun karena usaha tersebut tidak dilakukan secara berkelanjutan maka perkembangannya tidak begitu banyak.

Kanopi Indonesia sebagai lembaga yang peduli dengan upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, tergerak untuk ikut serta dalam usaha pelestarian anggrek di lereng Selatan Gunung Merapi. Pada tahun 2005 atas dukungan dari BKSDA Yogyakarta, Kanopi Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Anggrek bagi Kelompok Petani Anggrek Turgo. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memperkenalkan kepada anggota kelompok petani tentang budidaya anggrek dengan cara yang lebih baik. Disamping itu juga dilakukan kegiatan pendataan jenis jenis anggrek alam di lereng selatan Gunung Merapi. Pada tahun 2009 telah dipublikasikan hasil pendataan awal tersebut (www.orchidsindonesiamagazine.com). Sebanyak 67 species anggrek terdata di lereng selatan Gunung Merapi. Data tersebut merupakan satu satunya data keanekaragaman anggrek di lereng selatan Gunung Merapi tetapi sayangnya data tersebut tidak termasuk data populasi dan distribusinya.

Erupsi Gunung Merapi 2010 beberapa bulan yang lalu telah menghancurkan sebagian besar habitat alami anggrek alam di Gunung Merapi yang sejak tahun 2004 telah dinyatakan sebagai Taman Nasional Gunung Merapi. Akibat letusan tersebut sebagian besar hutan gunung di lereng selatan hancur. Tetapi hutan gunung di lereng selatan bagian barat tepatnya di sekitar Turgo masih dalam kondisi baik meskipun secara keseluruhan terkena abu vulkanik erupsi Merapi.

Sebagai tindak lanjut kegiatan pelestarian anggrek Merapi, Kanopi Indonesia menyelenggarakan Program Konservasi Anggrek Lereng Selatan Gunung Merapi. Ada dua kegiatan utama dalam program ini yaitu eksplorasi anggrek alam di sekitar kawasan Turgo dan Pelatihan Budidaya Anggrek bagi Kelompok Petani Turgo. Kegiatan eksplorasi anggrek merupakan kegiatan kolaborasi antara Kanopi Indonesia dengan Program I-MHERE Fakultas Biologi UGM tepatnya dengan laboratorium Fisiologi Tumbuhan. Kegiatan ini juga didukung oleh pihak Taman Nasional Gunung Merapi. Kegiatan eksplorasi anggrek meliputi pendataan jenis jenis anggrek alam di lereng selatan Merapi dengan disertai data populasi dan distribusinya. Sejauh ini telah diperoleh 51 jenis anggrek. Data tersebut nantinya akan dijadikan database anggrek Merapi. Diharapkan data tersebut dapat dijadikan sebagai dasar bagi langkah langkah program konservasi anggrek di Taman Nasional Gunung Merapi.

Kegiatan Pelatihan Budidaya Anggrek bagi Kelompok Petani Anggrek Turgo merupakan kerjasama antara Kanopi Indonesia dengan The Rainforest Coffee dari Taiwan. Kegiatan pelatihan ini meliputi beberapa materi yaitu Pengenalan dan Identifikasi Anggrek, Konservasi Anggrek, Pelatihan Pembuatan Greenhouse, Pelatihan Budidaya Anggrek dan Perbanyakan Anggrek dengan Teknik Kultur in-vitro, Pelatihan Manajemen Bisnis Anggrek dan Pelatihan Teknik Relokasi Anggrek. Kegiatan pelatihan meliputi teori dan praktek langsung. Kegiatan ini juga didukung oleh Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Cabang Yogyakarta dan pihak Taman Nasional Gunung Merapi. Kegiatan pelatihan diikuti oleh anggota Kelompok Petani Anggrek Turgo dan beberapa staf dari Taman Nasional Gunung Merapi. Dalam program ini sedang dibangun greenhouse anggrek yang sederhana yang berfungsi untuk tempat budidaya dan perbanyakan anggrek anggrek koleksi kelompok petani. Proses pembuatan greenhouse dilakukan secara gotong royong oleh anggota kelompok petani atas arahan dari Kanopi Indonesia. Selanjutnya jenis jenis anggrek yang sudah dikoleksi dan dibudidayakan di dalam greenhouse akan didata dan pada setiap pohon akan diberi label nama nama speciesnya. Kemudian seluruh jenis koleksi anggrek akan dibukukan dalam bentuk buku panduan anggrek (Handbook Anggrek). Buku sederhana tersebut dapat dijadikan bahan panduan bagi Kelompok Petani Anggrek Turgo dalam upaya memperkenalkan anggrek anggrek koleksi mereka kepada siapa saja yang berkunjung dan ingin melihat jenis jenis anggrek di dalam greenhouse.

Program pelatihan anggrek diharapakan dapat meningkatkan kemampuan para anggota kelompok petani dalam usaha budidaya dan pengembangbiakan anggrek alam. Dalam sisi sosial ekonomi, kegiatan budidaya yang dibarengi dengan usaha bisnis anggrek alam hasil budidaya dapat meningkatkan pendapatan para anggotanya. Disamping itu jika usaha budidaya dan pengembangbiakan anggrek alam sudah mumpuni, maka tidak akan ada lagi pengambilan anggrek anggrek alam di habitatnya. Bahkan sebagian dari hasil budidaya dan pengembangbiakan nantinya akan dikembalikan ke alam. Cara seperti ini diharapkan dapat manjadi salah satu cara untuk meningkatkan populasi anggrek di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Kanopi Indonesia mengharapkan dukungan dari berbagai pihak demi suksesnya usaha konservasi anggrek di Merapi, baik itu pihak Taman Nasional sebagai pemilik otoritas wilayah, Kelompok Petani Anggrek Turgo sebagai pelaku utama dan juga pihak pihak lain yang peduli dengan kegiatan konservasi anggrek.

 

Comments are closed.