Berkreasi dengan “brayo”

Buah tanaman mangrove jenis brayo atau api-api (Avicennia marina)

Bicara tentang mangrove, tentu sudah tidak asing untuk mengenalinya. Mangrove yang merupakan vegetasi/ tanaman dengan tipe berkayu banyak ditemukan di kawasan pantai dan rawa belakang yang beradaptasi pada lingkungan tertentu. Biasa terdapat di daerah pasang-surut, membuat mangrove memiliki karakteristik khusus pada sistem perakaran (akar nafas, akar tunjang, akar banir) dan buahnya (bentuk silinder, bulat dan bentuk kacang). Selama ini umumnya mangrove banyak dikenal manfaatnya hanya sebagai pencegah abrasi dan tempat pemijahan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting. Ternyata banyak yang dapat kita manfaatkan dari mangrove. Sebut saja bagian batangnya yang sudah lama digunakan sebagai kayu bakar dan bahan bangunan, namun pemanfaatan dengan cara ini justru menjadi penyebab rusaknya ekosistem mangrove. Pada bagian daunnya juga bermanfaat sebagai bahan obat-obatan ataupun sayuran. Selain batang dan daun tentu saja buah mangrove. Ternyata buah mangrove dapat dimanfaatkan mulai dari bahan obat-obatan hingga bahan makanan. Sebagai contohnya adalah mangrove jenis brayo/ api-api.

Kawasan mangrove Mangkang Wetan, Semarang

Belum lama ini beberapa Kanopiers menyambangi kawasan mangrove di Mangkang Wetan, Semarang untuk melakukan monitoring rutin hasil penanaman mangrove bersama UT (Universitas Terbuka). Kali ini ada hal yang lebih menarik dari sebuah perjalanan ke Mangkang Wetan selain menyusuri kawasan mangrove. Berawal dari suguhan kerupuk brayo dari tuan rumah (Ibu Ali) hingga kue bolu brayo buatan kelompok ibu-ibu. Brayo adalah istilah nama daerah/ lokal untuk jenis tanaman mangrove yang sering disebut api-api (Avicennia marina). Di Mangkang Wetan, sekelompok ibu-ibu telah berhasil mengembangkan produk olahan dari buah brayo/api-api (Avicennia marina) menjadi beberapa produk olahan makanan seperti kue bolu brayo, kerupuk brayo, kue lumpur brayo dan lainnya. Seperti yang dilakukan masyarakat Mangkang, ada rasa penasaran untuk mencoba sendiri mengolah buah api-api tanpa meninggalkan rasa buah api-api dan tidak menghilangkan tekstur buah itu sendiri.  Akhirnya terpikir untuk mengolahnya menjadi bakpia dan onde-onde. Kedua jenis  makanan ini pastinya sudah tidak asing lagi di lidah kita.

Kerupuk brayo salah satu makanan yang berasal dari pemanfaatan buah brayo/ api-api kreasi ibu-ibu Mangkang Wetan

Kue Bolu brayo salah satu makanan yang berasal dari pemanfaatan buah brayo/ api-api kreasi ibu-ibu Mangkang Wetan

Bersama Pak Ali kami mulai mengumpulkan buah api-api dari sekitar lahan tambak, hingga terkumpul seberat 400 gram. Untuk mengolah menjadi bahan makanan, buah api-api harus mengalami beberapa perlakuan. Dimulai dari mengupas kulit buah dan membuang putiknya, lalu mencuci bersih buah dan merebusnya kurang lebih satu jam. Karena buah api-api mengandung HCN dan Tanin yang membuat rasa buah menjadi anyir maka dalam perebusan harus dicampur dengan abu gosok. Setelah perebusan yang pertama, buah dicuci hingga abu gosok hilang, lalu kembali direbus selama 10 menit atau buah berubah hijau kecoklatan. Setelah proses perebusan, buah api-api tersebut harus direndam selama 2 x 24 jam. Tidak lupa selama perendaman, setiap 6 jam sekali air harus diganti. Setelah dua hari dilakukan perendaman, buah api-api siap diolah menjadi makanan atau campuran makanan. Untuk mengetahui apakah buah siap diolah adalah rasa buah adalah hambar/tidak berasa.

Setelah dicuci bersih, buah brayo dicampur dengan abu gosok kemudian direbus

Buah brayo direndam selama 2×24 jam untuk menghilangkan rasa anyir

Karena buah api-api akan menjadi pengganti kacang hijau pada isian bakpia ataupun onde-onde, maka buah api-api diolah dengan berbagai bahan yang diperlukan hingga menjadi adonan untuk isian kedua panganan tersebut. Pertama-tama buah api-api ditumbuk hingga halus lalu masukkan gula pasir 200 gram (tergantung selera manis tidaknya). Dengan api sedang, masukkan pula santan kental 65 ml dan daun pandan secukupnya yang bertujuan untuk memberi rasa sedap pada olahan buah api-api. Aduk campuran tersebut hingga kalis atau tidak lengket. Untuk adonan kulit bakpia hanya dibutuhkan tepung terigu 100 gram, garam secukupnya dan minyak secukupnya. Uleni campuran tersebut hingga tidak lengket / kalis. Pada pembuatan adonan kulit onde-onde, yang diperlukan adalah 250 gram tepung ketan dan 25 gram tepung tapioka, 1 butir telur dan 350 ml air. Semua adonan dicampur dan uleni hingga tidak lengket. Isian dari bahan buah api-api dibagi dua, masing-masing akan menjadi isian bakpia dan onde-onde.

Bakpia brayo kreasi chef Rani

Onde-onde brayo kreasi chef Rani

Ternyata isian bakpia dan onde-onde dari buah api-api tidak kalah enaknya dengan kacang hijau. Rasa hampir mirip dengan olahan dari kacang hijau namun tetap meninggalkan khas sebuah mangrove. Selain itu, dua produk ini lebih terasa rasa khas brayonya daripada hasil olahan yang sebelumnya.
Penasaran??? Silakan mencoba, namun dengan syarat benahi dahulu ekosistem mangrove sekitar kita sehingga kelestarian mangrove akan selalu terjaga. Maka persediaan bahan baku untuk pengolahan produk makanan dari mangrove dapat cukup tersedia.

Mari tanam, Mari lestarikan dan Manfaatkan.
Salam lestari.

Penulis: Rani Sawitri, Yayasan Kanopi Indonesia

Comments are closed.