Jalawe, Bahan Jamu yang Bisa Menjadi Pewarna Alam

perebusan Jalawe

Pewarnaan alami batik terbilang lebih ramah lingkungan dan telah terbukti menghasilkan emisi yang lebih rendah. Maka dari itu penggunaan pewarnaan alami khususnya batik sangat dianjurkan. Seperti yang dilakukan kelompok batik tulis Sido Mulyo, tepatnya di Dusun Giriloyo, Wukirsari, Yogyakarta, kelompok Sido Mulyo telah mengembangkan usaha batik dengan pewarnaan alam secara turun temurun.

Pewarna alami yang digunakanpun beragam, mulai batang (kayu), kulit kayu, daun, biji, akar dan bagian tanaman lainnya. Salah satu yang digunakan sebagai pewarna alami, kelompok Sido Mulyo menggunakan kulit buah Jalawe. Kulit buah Jalawe merupakan salah satu bahan jamu tradisional yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna batik.

proses perebusan jalawe (foto: Arif Rudiyanto)
Proses perebusan jalawe (foto: Arif Rudiyanto)

Kulit buah Jalawe dapat menghasilkan warna hijau kecoklatan. Warna tersebut diperoleh dari bagian kulit buah yang sudah dikeringkan, setelah itu melalui proses perebusan (ekstraksi). Proses perebusan sampai mendidih dengan resep takaran yaitu 1 kg bahan kulit buah Jalawe dilarutkan dengan air bersih sekitar 10 liter, selanjutnya bahan tersebut direbus sampai mendidih, sehingga menghasilkan air rebusan menjadi 5 liter atau ¬Ĺ panci.¬†Setelah perebusan untuk mendapatkan larutan warna, kemudian disaring dan dibersihkan dan larutan warna siap digunakan sebagai pewarna alami batik. (arm/ed:rn)