Cerita Di Balik Motif Kawung

kawung_sidomulyo_kanopi

Kawung merupakan motif batik klasik, dimasa lampau motif batik kawung dipakai di lingkungan keraton. Berdasarkan fungsinya motif Kawung berfungsi sebagai kain pada upacara dan momen keagamaan para kerabat kraton, terkait pada aturan yang mencakup status pemakai, tatakrama dan tatacara penggunaan, serta ragam hias dan perlambangan yang disandangnya.

Konon motif kawung diciptakan oleh salah satu Sultan Mataram, dan konon ceritanya kawung merupaka motif larangan. Motif batik kawung dikenal di Jawa sejak abad 13 yang muncul pada ukiran dinding pada beberapa candi dan arca di Jawa, seperti Prambanan dan daerah Kediri. Pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yang memiliki sosok berwibawa dan juga dihormati di kalangan kaumnya. Sosok yang berwibawa, bijak dan santun, dengan cepat sampai menjadi namanya terdengar samapai di lingkungan kerajaan Mataram. Di kalangan keraton merasa penasaran dengan kemashuran sang pemuda, sampai diperintahkan pemuda ini untuk berkunjung ke istana raja. Mendengar kabar putranya dipanggil raja, membuat ibunya terharu dan berharap kepada pemuda tersebut. Untuk itulah sang Ibunda membuatkan batik dengan motif kawung, dengan harapan putranya bisa menjaga diri dari hawa nafsu juga menjadi manusia yang berguna bagi msyarakat banyak.

Kata kawung diambil dari nama jenis pohon palem, atau pohon aren dan buah aren, sebagaimana kita mengenal gula aren, gula kawung, ataupun kolang-kaling yang berwarna putih yang tersembunyi di balik kulitnya yang keras. Dalam kepercayaan Jawa dimaknai bahwa itikad yang bersih itu sebagai ketetapan hati yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Cerita lain, kawung juga bisa berhubungan dengan kata kwangwung, yakni sejenis serangga yang berwarna coklat mengkilap dan indah.

Nama motif kawung umumnya berdasarkan besar kecilnya bentuk bulat lonjong ada pada suatu motif batik kawung tertentu. misalnya, 1) kawung picis (nama mata uang kecil bernila 10 sen) yaitu kawung yang tersusun berukuran kecil. 2) kawung bribil (nama mata uang lebih besar dari uang picis bernilai setengah sen) yaitu kawung yang tersusun berukuran agak besar. 3) kawung sen yaitu kawung yang berukuran lebih besar dari kawung bribil.

Dari cerita-cerita diatas bahwa pada batik kawung terdapat simbol-simbol yang menunjukan kepada sesuatu yang bersifat transenden. Simbol tersebut tidak bisa difahami secara harafiah, tetapi didalamnya terkandung perlambangan aspek ketuhanan, falsafah hidup dan konsep keselarasan hidup (duniawi dengan kehidupan dikemudian hari). (arm)