Aliran sungai yang ada di dekat kampung atau sawah nampaknya sebuah pemandangan yang biasa-biasa saja. Namun ketika menyusuri sungai ternyata bisa menjadi rekreasi yang megasyikkan. Selain bisa menikmati aliran air yang jernih, ketika menyusuri sungai tidak jarang bertemu dengan hewan-hewan liar seperti burung, ikan, katak, ular yang sedang melintas. Pengalaman ketika menyusuri sungai, memberi sebuah pelajaran bahwa ternyata secuil sisa kehidupam liar masih bisa bertahan di lingkungan peradaban manusia berkat aliran sungai yang masih terjaga.
Minggu pagi 24 juni 2007, hari liburku diisi dengan jalan-jalan menelusuri sungai di kampung. Sungai itu bernama Keji, letaknya sekitar 5 km dari Muntilan ke arah timur, tepatnya di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, lereng barat Gunung Merapi. Sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi itu bukanlah tempat yang asing bagiku karena ketika kecil masih sering mancing di sungai ini.
Tepat pukul 08,00 dengan membawa binokuler dan sebuah kamera digital, penelusuran sungai dimulai dari bendungan yang menjadi tempat mancing favorit dulu.Untuk menuju kesungai itu aku harus melewati sawah yang banyak ditanami casyang berundak Berdiri di sebuah batu besar di bawah bendungan membuat pandangan menjadi terpaku. Meski dulu sering main di sini, tapi kini masih saja takjub melihatnya.
Walau alirannya kecil tapi airnya bening dan bersih. Sungai ini begitu vital peranannya bagi kehidupan masyarakat di sini.Betapa tidak, dari bendungan kecil inilah kebutuhan pengairan sawah dan kolam di desa selama ini terpenuhi. Tatapi untungnya meski di musim kemarau, air di sungai ini masih mengalir deras. Tak bisa dibayangkan jika air disini berubah kotor atau bahkan kering.
Puas dengan hasil jepret amatiran, penelusuran dilanjutkan menuju ke arah hulu. Melewati bebatuan, ku coba sebisa mungkin barjalan tanpa menyentuh air. Tapi ini tidak berlangsung lama karena ada obyek menarik di dinding seberang, dan terpaksa harus mencebur ke air
setinggi perut untuk bisa mendapatkan gambar. Seekor kelabang seukuran penggaris mika 30 cm merayap di diantara aliran air yang mengalir di dinding tebing.
Tapi sayang aku memotret tanpa pembanding, jadi tak semua bisa percaya. Dengan badan basah kuyup kamera dan binokuler kuamankan di dalam plastik Beberapa saat kemudian menemukan bekas kulit ular yang ditinggal saat berganti kulit di atas batu. Setelah kejadian itu perasaan jadi agak was-was dan harus memperhatikan tiap langkah. Karena kemungkinan ularnya berada di sekitar tempat ini. Namun yang sering membuat kaget justru katak Buffo asper yang biasa meloncat secara tiba-tiba ke sungai tepat di depanku.
Penelusuran berjalan begitu lambat karena sekali-kali, pandangan terpaku pada keadaansekeliling. Pemandangan sungai jadi lebih sangar dengan banyak pohon-pohon berperawakan kekar seperti beringin, Loh, Gondang, Ipik, Bibisan,maupun Rempelas ditemukan di pinggir sungai. menaungi badan sungai. Memang Pohon Ficus dominan di sepanjang sungai ini, tidak kurang 10 jenis Ficus bisa ditemukan di sini. Selain Ficus terdapat banyak jenis pohon lain seperti gayam, dadap, bambu, aren, keluwih, nagka dan lain lain. Tanaman herba dan semak yang banyak ditemui antara lain paku-pakuan seperti Heterogonium, Selaginella, Pteris sp, , bangsa tales Colocasia, Homalomena, Schysmatoglottis, bahkan anggrek tanah Spatoglottis sp.
Suasana begitu riuh dengan suara garengpong yang mendesis. Sesaat kemudian terdengar suara kekkekekk semakin keras. Seekor cekakak jawa Halcyon cyanoventris bertengger di pohon kaliandra yang batangnya menjorok ke badan sungai. Pelan-pelan kucari tempat tersembunyi untuk mengamati dengan binokuler. Suara kekekan cekakak berubah dan makin keras seperti alarm tanda adanya ganguan kedatanganku. Benar, sesaat kemudian ia pun terbang dan pandanganku teralih ke daun talas di samping kanan yang tiba–tiba bergoyang, di dahannya dihinggapi sekor burung pelanduk semak,Malacocincla sepiarium yang meloncat kesana kemari, suaranya agak lain ‘krek-krek’. Suara yang dikeluarkan sebagai tanda alarm ketika merasa terganggu. Ini berarti harus menjauh melanjutkan penelusuran.
Sekitar sepuluh meter berjalan menjauhi pohon kaliandra terdengar kembali burung cekakak jawa Halcyon cyanoventris, ternyata ia kembali ketempat bertengger yang tadi membuat penasaran. Aku kembali dngan merunduk dan sembunyi di belakang batu besar kutunggu apa yang akan dilakukan. Dari tempat bertenggernya ia terbang menuju sebuah lubang di dinding tebing. Namun ia urung melanjutkan dan terbang mambalik pergi.. Lubang itu berada diketinggian sekitar 2 meter. Itulah sarangnya, Ketika lubang di potret ternyata dalam lubang terdapat seekor anak cekakak jawa.
Burung endemik jawa ini memang biasa membuat sarang di tebing-tebing sungai. Sarangnya berupa lubang dengan kedalaman sekitar setengah meter. Sarang Cekakak jawa mudah dikenali karena bentuk lubang sarang begitu khas. Mulut lubang biasanya berukuran 8 x 12 cm dengan benjolan di bagian tengah bawah, bagian dalamnya memiliki ruangan lebih besar cukup untuk menampung beberapa ekor burung. Dngan kondisi saraang yang aktif berarti tidak bisa berlama-lama berada di dekat sarang, karena akan mengganggu induk yang mau memberi makan anaknya. Agar burung Cekakak jawa tidak takut maka harus mengalah menyingkir ka atas tebing sungai.
Tak disangka waktu berjalan begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 11.12 WIB. Kami harus segera pulang karena kewajiban lain siap menunggu. Baru beberapa saat naik meninggalkan sungai, seekor burung seekor meninting besar, Enicurus lescenaulty melintasi sungai dan nangkring diatas batu untuk mencari serangga. Siulan melengking panjang seperti mngalir bersama air sungai membuat kami terasa berat untuk pulang.
Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)
Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009
Kekayaan Jenis Satwa Indonesia
Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku
“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas
Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan
Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut
Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman
Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi
ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia
Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta
Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)
TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)
Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi
Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)
Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi
Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi
Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)