Day 1, August 2008
Untuk pendidikan lingkungan dalam bentuk Visit To School yang ‘rencananya’ akan dilaksanakan di Lereng Selatan Merapi (bagian dari Program Kampanye Bangga Konservasi Lereng Selatan Gunung Merapi), Kanopi Indonesia mengadakan pelatihan pada tanggal 23 - 24 Agustus 2008 di Villa Bukit Mas untuk calon-calon fasilitator yang akan berkegiatan dalam Visit To School.
Diikuti oleh 12 orang calon fasilitator pendidikan lingkungan dari masyarakat lokal (1 orang) KP3 Divisi Ekowisata (3 orang), KSSL (3 orang), dan Matalabiogama (5 orang). Para calon fasilitator ini nantinya diharapkan dapat terjun ke 9 Sekolah Dasar (SD) yang berada di lokasi teratas yang ada di Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan. ToT ini digawangi oleh 5 orang dari Kanopi Indonesia, yaitu Mas Yusup, Mas Agus, Ma’ruf, Ulie, dan Ami.
Dibuka dengan penjelasan mengenai Kanopi Indonesia dan Program Kampanye Bangga Konservasi Lereng Selatan Gunung Merapi oleh Ulie (Project Manager Kampanye Bangga Konservasi) dan Mas Yusup (Direktur Kanopi Indonesia), kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan menggunakan permainan Menggambar Wajah (wajahe karikatur kabeh ^^). Suasana ramai dan cukup serabutan terjadi saat memainkan permainan ini. Masing-masing peserta sibuk mencari orang yang harus diwawancarai, dan di lain pihak peserta lain pun mengejar-ngejar kita untuk bisa mewawancarai. Kebekuan antar peserta yang tadinya tidak saling mengenal juga dapat cair dengan melakukan permainan ini. Permainan pertama ini diakhiri dengan istirahat siang.
Film animasi berdurasi pendek berjudul "Turtle’s World" mengakhiri sesi istirahat siang. Film ini mampu menarik perhatian teman-teman peserta (sampai diulang 2 kali). Makna simbolis banyak terdapat sepanjang film ini, seperti ‘bumi’ yang digambarkan terletak di atas tempurung seekor penyu (teori geosentris???), proses awal mula terbentuknya ‘bumi’ sampai pohon dan hewan (di sini digambarkan dengan kera), sampai pemanfaatan sumber daya yang melebihi batas sampai akhirnya sang penyu tidak bisa lagi menopang ‘bumi’ dan jatuh ke laut (loh???).
Diskusi pertama bertema Teknik Dasar Fasilitasi Lingkungan dibawakan oleh Mas Agus Wijayanto. Diskusi ini mengulas tentang fasilitasi dan teknik untuk menjadi seorang fasilitator lingkungan. Menjadi seorang fasilitator lingkungan ternyata membutuhkan keahlian-keahlian khusus dan rel yang harus diikuti.
Suatu pelatihan tidak cukup hanya dengan mendengarkan pemaparan dari narasumber saja. Praktek menjadi fasilitator juga dicoba oleh para peserta, seperti yang dilakukan oleh Rona (Matalabiogama) yang mencoba memfasilitasi diskusi film kerusakan hutan dari Inform yang berdurasi sekitar 3 menit. Banyak masukan yang didapat dari ‘coba-coba’ ini, yang semoga bisa menambah pengetahuan kita tentang seluk beluk fasilitasi pada umumnya dan fasilitasi lingkungan pada khususnya.
Praktek fasilitasi tidak hanya dalam mendiskusikan film saja, tetapi juga dalam permainan. Kita juga mencoba belajar dengan bermain, satu metode yang sangat efektif ketika kita berhadapan dengan anak-anak. Permainan yang dicoba adalah Monokultur, Pindah Bola, Melayang Di Udara, dan Siapakah Aku. Dalam permainan-permainan ini masing-masing peserta mencoba memfasilitasi (dengan peserta lain berpura-pura menjadi anak SD). Walaupun masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, mereka sangat antusias dalam membawakan sebuah permainan. Yang dibutuhkan bagi teman-teman peserta adalah pengalaman dan jam terbang yang tinggi untuk dapat terus mengasah kemampuan fasilitasinya (semangat, dab!!!!!).
Pemutaran film Outbound Kepala Sekolah SMP Se-Gunung Kidul diputar menemani kami menikmati santap makan malam. Teman-teman peserta terlihat sangat tertarik dengan permainan-permainan yang terlihat di film itu. Banyak permainan ala outbound yang dilakukan, mulai dari permainan icebreaking, energizer, sampai team building. Kalau teman-teman Kanopi, sih, nonton film itu sambil nostalgia saat-saat kami masih banyak dan bersama (duh…).
Diskusi mengenai Visit To School dilakukan setelah break Maghrib. Di sini teman-teman diberikan pembekalan (kok kayak KKN ya…). Mulai dari Terms of Reference, tujuan, metode, sampai pada alasan pemilihan metode.
Day 2
Kegiatan pagi hari dimulai setelah sarapan (nasi goreng telor ceplok, bo’!) dengan refresh permainan icebreaking seperti Entelemi, Tonji-Tonji, Chabocha, Ramtamtam, Buah-buahan, Tahu Tante Tuti, dan Benang Kusut. Permainan ini bertujuan selain untuk mengenalkan dan melatih calon fasilitator, juga untuk team building ke depan. Tidak dapat dipungkiri, setelah pelatihan ini baik Kanopi maupun para volunteer akan bekerja bersama sebagai satu tim untuk Pendidikan Lingkungan, tidak terbatas pada program Visit To School saja, tetapi juga program-program Pendidikan Lingkungan yang akan datang.
Setelah permainan pagi, kegiatan dilanjutkan dengan workshop pembuatan wayang kardus. Bahan yang dibawa adalah kardus (tipis), cat tembok, kuas, pewarna, bambu (untuk cagak wayang), tali kasur, krayon, spidol, dan alat-alat tulis lainnya. Tahapan awal pembuatannya adalah menentukan apa saja yang akan dibuat wayang. Penentuan ini tergantung dari cerita dan tema yang akan dibawakan. Setelah itu membuat sketsa pada kardus. Pembuatan sketsa dapat dilakukan dengan menggunakan pensil, bolpen, atau spidol, tergantung pada jenis pewarna yang digunakan, apakah itu cat, krayon, atau spidol berwarna. Setelah sketsa jadi, digunting sehingga membentuk wayang. Pewarnaan dilakukan setelah itu, dan dilanjutkan dengan pemasangan cagak.
Poin yang dapat diambil dapat pembuatan wayang kardus ini adalah teman-teman belajar dan mengalami proses pembuatan sebuah wayang, mulai dari penentuan karakter, sketsa, pewarnaan, sampai selesai. Selain itu teman-teman juga belajar mencampur warna dengan media cat tembok. Walaupun banyak (hampir semua) teman-teman yang mengaku nggak bisa menggambar, ternyata wayang yang dihasilkan tidak kalah bagusnya dengan ‘tukang gambar’ yang ahli. Pede aja, lagi… ^o^
RTL (Rencana Tindak Lanjut) dibicarakan setelah break makan siang. Yang dibahas adalah pembagian tim dan jadwal kunjungan. Tim dibagi menjadi 3 tim yang masing-masing insya Allah akan bertanggung jawab atas 3 SD. Setiap tim terdiri dari 3 – 4 orang. Jadwal kunjungan masih belum fix, dan nanti tim akan diberi kabar selanjutnya oleh Ulie. Tim diberi kebebasan untuk mengatur dan memilih strategi yang digunakan dalam mendampingi anak-anak target.
Kegiatan diakhiri dengan permainan evaluasi yang menggambarkan perasaan peserta selama mengikuti pelatihan ini. Setelah selesai, kegiatan pelatihan ditutup oleh Ulie, dan kami packing dan bersiap-siap kembali ke Jogja.
Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)
Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009
Kekayaan Jenis Satwa Indonesia
Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku
“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas
Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan
Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut
Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman
Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi
ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia
Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta
Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)
TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)
Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi
Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)
Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi
Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi
Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)