Weker jam 4.30 pagi membangunkanku di hari Rabu yang berawan di kota Jogja. Huaduh, kok mendung, pikirku. Kalau sampai hujan, bisa repot acara kunjungan hari ini. Haa? Kunjungan? Kunjungan apaan sih?
Ya… hari Rabu tanggal 24 Februari 2010 yang lalu aku dan teman-teman Kanopi Indonesia menemani beberapa tamu dari Wildlife Conservation Society, Care International, Operation Wallacea Trust, dan World Bank dalam kunjungan ke beberapa tempat TTG (Teknologi Tepat Guna) dan berwawasan lingkungan di seputaran Sleman, Yogyakarta. Pukul 8.00 kami sudah standby di Grand Quality Hotel, dengan 3 buah mobil yang siap mengantarkan kami dan tamu-tamu kami. Telepon seluler selalu siap siaga di tanganku, dan backpack (yang menurut BANYAK temanku terlalu besar untukku) siap tersandang di punggungku.
Mulutku sibuk memberi arahan kepada Mas Yudi, salah satu driver kami, menuju lokasi pertama kunjungan kami, yaitu Kampung Sukunan. Kampung Sukunan ini merupakan salah satu kampung wisata yang terkenal karena mereka telah sukses dalam menekan jumlah sampah yang mereka hasilkan sampai lebih dari 50 persen. Withik… Keren banget ‘kan? Tentu saja hal ini bukan pekerjaan mudah, karena Pak Iswanto (salah satu penggagas Sukunan Bersemi) membutuhkan waktu sampai 6 tahun lebih untuk bisa sampai pada kondisi sekarang ini.
Kami disambut oleh Pak Harto, salah satu pengurus Paguyuban Sukunan Bersemi. Di salah satu rumah warga kampung, beliau bercerita tentang mengapa Kampung Sukunan ini berinisiatif untuk mengolah sampahnya sendiri. Sambil menikmati snack dan segelas wedang secang (enak banget minuman ini), kami mendengarkan cerita beliau. Dahulu, sampah dari kampung ini terlantar, karena tidak mendapat pelayanan pengambilan sampah dari pemerintah maupun dinas terkait.
Saat ini sampah dari Sukunan hanya berakhir sampai Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan itupun sudah jauh berkurang. Sampah yang dihasilkan di setiap rumah langsung dipisah di tingkat rumah tangga, kemudian dikumpulkan. Sampah non-organik yang bisa dijual kembali mereka jual untuk menambah kas RW, dan sampah yang tidak bisa dijual kembali mereka daur ulang sendiri untuk menambah nilai jualnya sehingga dapat dijual.
Sedangkan sampah organiknya langsung diolah dan dijadikan kompos untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun dijual. Banyak produk inovatif yang dihasilkan oleh paguyuban ini, diantaranya adalah kerajinan tangan dari barang bekas, komposter untuk tiap rumah tangga, batako dari styrofoam (gabus), sampai pembalut wanita berkali-kali pakai (aku terbengong-bengong waktu liat barang ini…). Memang tidak mudah untuk merubah perilaku menyangkut sampah, tapi juga tidak mustahil, bukan? Salah satu contohnya adalah masyarakat di Kampung Sukunan.
Jam tanganku yang menunjukkan pukul 11.00 menandakan bahwa kami harus meninggalkan kampung yang luar biasa ini menuju ke lokasi selanjutnya. Kami pun berpamitan dengan Pak Harto dan beberapa warga yang telah berbaik hati mengantarkan kami melihat-lihat kampung. Aku membuka telepon selulerku dan menelpon Mas Adi, salah satu karyawan di Sego Penyetan Banyuwangi, tempat kami akan singgah untuk makan siang dan istirahat, dan mengabarkan bahwa kami sedang dalam perjalanan ke sana. Kali ini mulutku diam saja karena para driver kami yang sudah berpengalaman ini sudah tahu letaknya. Aku hanya tinggal duduk manis di dalam mobil dan mempercayakan semuanya. Enak ya, ternyata, kalau punya driver… ngerasain jadi wong sugih, walaupun cuma sehari, hehehe…
Sego Penyetan Banyuwangi. Menu yang ditawarkan cukup variatif dan sederhana, walaupun mewah (MEpet saWAH ^^). Tapi justru itu kami bisa melihat pemandangan menyegarkan dari hijaunya sawah di sekeliling rumah makan ini. Kami langsung menuju ke tempat yang sudah direservasi sebelumnya dan memesan menu sesuai selera masing-masing.
Bertolak dari tempat kami makan siang, aku minta Rani (salah satu teman dari Kanopi Indonesia) untuk jadi leader konvoi kami. Ketiga mobil terus menuju ke utara… menanjak, menanjak, dan terus menanjak… Yah, hal itu wajar saja, karena dusun yang akan kami kunjungi termasuk dalam salah satu desa teratas di lereng selatan Merapi dan langsung berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Merapi hari itu sangat cerah, dan kami bisa melihat gunung berapi itu dengan sangat jelas. Syukurlah, kekhawatiranku pagi tadi tidak terjadi. Lereng selatan Gunung Merapi merupakan salah satu tempat terindah yang pernah kudatangi.
Yang menyambut kami kali ini di kediaman Pak Sugeng adalah beliau sendiri, Pak Kadus, dan Mas Okie (Kanopi Indonesia) yang sudah lebih dulu sampai di sana. Kami duduk lesehan di atas tikar yang sudah digelar di teras rumah. Uup (Kanopi Indonesia) membuka perbincangan dengan menjelaskan latar belakang mengapa Kanopi Indonesia waktu itu membuat percontohan biogas semi permanen di rumah Pak Sugeng. Di lereng selatan Merapi, dan di Dusun Petung khususnya, setiap kepala keluarga mempunyai paling tidak 2 ekor sapi perah yang dikandangkan, cukup untuk memenuhi kebutuhan biogas harian, sebenarnya. Daripada warga dusun mencari kayu ke hutan atau membeli minyak tanah yang kian tinggi harganya, Kanopi Indonesia mencoba untuk membuat biogas di sana. Sudah satu tahun sejak biogas tersebut dibuat, dan sampai sekarang digesternya masih bekerja dengan baik dan mengeluarkan gas yang disalurkan ke dapur untuk memasak setiap hari.
Instalasi biogas yang ada di belakang rumah Pak Sugeng sangat sederhana. Terbuat dari lembaran plastik PE yang dirangkap untuk mencegah terjadinya kebocoran. Untuk menyalurkan gas yang sudah terbentuk, digunakan pipa pvc dan beberapa sambungan pipa. Pak Sugeng memasukkan kotoran sapi ke dalamnya setiap 5 hari sekali, dan itu sudah cukup untuk memasak setiap harinya. Api yang dihasilkan pun biru dan tidak berbau. Tekanan gas yang rendah menyebabkan biogas jauh lebih aman dibandingkan tabung gas elpiji. Selain kotoran dari sapi, teman-teman dari Kanopi Indonesia pernah membantu masyarakat di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara untuk membuat instalasi biogas yang kotorannya berasal dari babi dan ayam.
Pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke lokasi terakhir di Dusun Turgo, Kecamatan Pakem. Di sana kami langsung menuju rumah Pak Musimin yang langsung berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Di halaman rumah Pak Musimin terdapat sebuah green house untuk memelihara koleksi anggrek dari lereng selatan Merapi. Sudah lama Pak Musimin memelihara anggrek-anggrek ini dan memperbanyak anggrek anggrek tersebut dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan bijinya. Tujuannya adalah agar anggrek-anggrek alam tersebut tidak punah karena semakin rusaknya hutan di sana.
Selain green house anggrek, Pak Musimin juga membuat pembibitan pohon bambu (Bambusa sp.) dan pohon sengon (Paraserianthes falcataria). Hampir semua jenis bambu yang ada di lereng selatan Merapi ada di pembibitan ini. Bambu banyak dicari untuk keperluan penghijauan, terutama daerah yang curam agar tidak mudah terjadi erosi. Sengon juga banyak dicari untuk keperluan penghijauan, namun sengon lebih bernilai ekonomi karena hasil kayunya dapat
dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi daripada bambu.
Untuk keperluan pembibitan ini, tentu saja Pak Musimin memerlukan pupuk. Nah, ternyata beliau tidak membeli pupuk buatan dari toko pertanian, tetapi membuat pupuk cair sendiri dari air seni sapi perah. Sapi perah banyak terdapat di lereng selatan Merapi, namun air seninya masih jarang digunakan. Lagipula, penggunaan pupuk cair organik ini dapat mengurangi dampak negatif yang terjadi pada lingkungan. Selain itu, biaya pembuatannya jauh lebih murah daripada membeli pupuk buatan.
Sementara kami melihat-lihat, Bu Musimin telah menyiapkan hidangan sederhana untuk kami santap di sore hari itu. Wah… tehnya kok lain ya, rasanya? Ternyata, teh yang disediakan untuk kami itu bukan berasal dari teh buatan pabrik. Pak Musimin memiliki beberapa pohon teh di halaman rumahnya, dan daun teh yang masih segar itu disangrai sampai kering dan langsung diseduh dengan air panas. Hmm… fresh from the nature… =D Hal yang tidak bisa kita jumpai di perkotaan.
Ketika matahari semakin merendah di langit sebelah barat, tibalah waktunya kami untuk kembali ke hotel… kembali ke kota yang penuh (bukan dengan pepohonan hijau, tapi dengan) gedung-gedung, (bukan dengan bermacam jenis burung, tapi dengan) pesawat terbang yang melintas setiap jam, dan (bukan dengan jalan setapak berbatu yang ditumbuhi lumut, tapi dengan) jalan raya beraspal…
Terima kasih kepada para tuan rumah dari ketiga tempat yang kami kunjungi, Pak Harto, Pak Sugeng, dan Pak Musimin… sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami untuk bisa berbagi dengan teman-teman yang datang dari Jakarta dan Sulawesi... para driver kami, Mas Yudi dan Pak Mardi… dan untuk teman-teman Kanopi Indonesia (Uup, Pakdhe, Rani, Mas Okie, Mas Cemet, Mas Cuples), terima kasih sudah membantuku selama beberapa minggu ini… MERCI!!!
Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)
Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009
Kekayaan Jenis Satwa Indonesia
Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku
“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas
Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan
Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut
Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman
Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi
ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia
Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta
Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)
TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)
Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi
Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)
Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi
Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi
Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)