Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Sumber: Balivetman, Media Indonesia, Antara News

Invertebrata atau Avertebrata adalah sebuah istilah yang diungkapkan oleh Chevalier de Lamarck untuk menunjuk satwa/hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Sedangkan vertebrata adalah satwa/hewan yang memiliki tulang belakang.  Invertebrata mencakup semua hewan kecuali hewan vertebrata (pisces, reptil, amfibia, burung, dan mammalia. Contoh invertebrata adalah serangga, ubur-ubur, hydra, cumi-cumi, dan cacing. Invertebrata mencakup sekitar 97 persen dari seluruh anggota kingdom Animalia.

Lamarck membagi invertebrata ke dalam dua kelompok yaitu Insecta (serangga) dan Vermes (cacing). Tapi sekarang, invertebrata diklasifikasikan ke dalam lebih dari 30 sub-fila mulai dari organisme yang simpel seperti porifera dan cacing pipih hingga organisme yang lebih kompleks seperti mollusca dan arthropoda. Penelitian lebih lanjut dalam bidang taksonomi menunjukkan bahwa banyak hewan invertebrata yang berkerabat lebih dekat dengan vertebrata daripada dengan sesama invertebrata.

Di Indonesia, kekayaan satwa yang tidak dapat dipandang enteng oleh dunia internasional. Indonesia di urutan pertama di dunia dalam kekayaan mamalia (binatang menyusui) yaitu sekitar 515 jenis, 36%nya adalah satwa yang hanya dapat ditemukan di Indonesia atau endemic Indonesia. Dari golongan primata atau bangsa kera terdapat 36 jenis, 18% diantaranya adalah endemik Indonesia.  Keempat di dunia dalam jumlah satwa burung, yaitu 1539 jenis satwa. Dari keluarga burung nuri dan kakatua yang berjumlah 78 jenis, 44% diantaranya adalah endemik Indonesia.  Ketiga di dunia dalam jumlah reptil, yaitu sekitar 600 jenis atau 16% dari reptil yang ada di dunia. 45% ikan di dunia ada di Indonesia. 15% serangga di dunia ada di Indonesia.

Namun demikian, keberadaan satwa Indonesia saat ini mengalami ancaman yang tidak ringan.  Praktek pemanfaatan hutan yang cenderung bersifat ekploitasi destruktif serta perburuan/pernyelundupan/perdagangan satwa.  Sebagai contoh, orangutan yang hidup di Kalimantan dan Sumatra telah kehilangan sekitar 40% habitatnya. Bahkan, Owa Jawa dan Lutung Jawa juga kehilangan 95 % habitat akibat hutan-hutan di Jawa gundul. Elang Jawa yang dikenal sebagai burung garuda, dan hanya dapat dijumpai di Pulau Jawa, kini populasinya diperkirakan kurang dari 1.000 ekor.

Suatu jenis satwa dianggap punah bila satwa-satwa itu tak ditemukan lagi di alam. Contohnya, satwa Indonesia yang punah antara lain, Harimau Bali (Panthera tigris balica), dan Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus). Bila satwa tersebut tidak lagi ditemukan di alam, tetapi masih ditemukan di tempat penangkaran, dikategorikan hanya punah di alam. Satwa yang dinyatakan punah di alam ini misalnya Burung Jalak Bali (Leucopsar rotschildi). Burung ini sulit ditemukan di alam, tetapi masih ditemukan di penangkaran.  Harimau Jawapun dikatakan ikut punah, walaupu di beberapa lokasi di Jawa masih ada yang menyatakan pernah bertemu maupun menemukan jejaknya.  Bahkan sekarang ini, harimau Sumatera yang dulu mengembara di seluruh pulau Sumatera sekarang dianggap "terancam sangat genting”.

Saat ini, ratusan jenis satwa liar di Indonesia terancam punah akibat maraknya praktik perdagangan dan perburuan satwa ilegal, pembukaan areal hutan yang tidak terkendali, serta perambahan hutan yang merusak habitat.  Melindungi satwa dan tumbuhan langka Indonesia dengan Undang-undang sehingga satwa/tumbuhan tersebut tidak boleh dipanen atau diperdagangkan. Terdapat lebih dari 750 jenis binatang menyusui (mamalia),1.250 jenis burung, 600 jenis binatang melata dan amphibia, 9.000 jenis ikan, 12.000 serangga /Arthopoda. Banyak diantara jenis tersebut di atas telah dilindungi oleh Pemerintah yaitu : 100 jenis binatang 8 menyusui, 372 jenis burung, 28 jenis binatang melata / amphibia, 6 jenis ikan, 20 jenis serangga dan 38 jenis tumbuhan berbiji.

Indonesia sebenarnya telah membuat berbagai perangkat hukum dalam upaya melindungi ribuan satwanya.  Khusus untuk konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya telah dikeluarkan UU No. 5/1990.  Kemudian telah dikeluarkan peraturan turunannya tentang pengawetan dan pemanfaatan yaitu PP. No. 7/1999 dan PP No. 8/1999.  Di tataran internasional, Indonesia telah berkomitmen terhadap Convention on International Trade, on Endangered Species of Flora and Fauna (CITES). Indonesia adalah salah, satu negara yang meratifikasi CITES. Selain itu Indonesia juga meratifikasi konvensi yang meng­atur perlindungan binatang yang hidup di lahan basah (Wetland) seperti burung migran, ikan, penyu, buaya dan lain-lain.

Sungguh, diperlukan upaya yang tidak ringan dalam menyelamatkan satwa Indonesia, baik dari sisi perlindungan habitatnya maupun individunya.  Dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat lokal, nasional, dan internasional dalam memerangi kepunahan satwa Indonesia.

Sumber: Balivetman, Media Indonesia, Antara News

 

 

 

Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)

Kampanye Peduli Elang Jawa

Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah

Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Habitat Elang Ular Bido (Spilornis cheela-bido Horsfield, 1821) Di Zona Pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta

Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Jogja Green Festival

Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku

“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas

Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan

Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut

Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman

Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia

Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta

Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi

Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)

TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)

Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi

Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)

Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi

Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi

Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)

Ngargomulyo, Desa Lestari di Lereng Barat Merapi, Magelang

Setitik Usaha Mempertahankan Sumber Kehidupan