Festival-nya “Bocah” di Lereng Merapi

“Walaupun hujan turun,
pertunjukan Festival Tlatah Bocah tetap berjalan dengan baik dan meriah.”

Pada Sabtu, 27 Oktober 2018 telah dibuka pergelaran budaya tahunan Festival Tlatah Bocah. Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari yaitu hingga minggu 28 Oktober 2018. Pelaksana kegiatan ini adalah tlatah bocah (anda bisa mengetahui lebih lanjut tentang tlatah bocah melalui link berikut http://tlatahbocah.org/). Festival tahun ini mengusung tema “Holopis Kuntul Baris”. Selain budaya, kegiatan ini ditujukan untuk menanamkan nilai-nilai keberagaman dan gotong royong di kalangan masyarakat, terutama anak-anak. Festival kali ini diadakan di lereng Gunung Merapi atau lebih tepatnya di Desa Sumber (Kab. Magelang).
Festival ini terbagi menjadi dua kegiatan, yaitu pertunjukkan dan lokakarya. Keduanya dilaksanakan di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Pertunjukan menampilkan hingga 33 pertunjukan seni yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti , bahkan ada yang berasal dari luar negeri yatu Circo Capoeira yang berasal dari Brazil.

Fota Penampilan Tarian Ba Sa Ba oleh Ranah Batuah dari Kota Pariaman, Sumbar.

Di atas panggung yang menyerupai perahu, para seniman menampilkan tarian, musik, dan berbagai bentuk seni pertunjukkan lainnya. Panggung dibangun di depan Sanggar Bangun Buday. Pada sore di hari sabtu, pegelaran terkendala hujan yang cukup lebat sehingga beberapa kegiatan ditunda hinga hujan tidak terlalu lebat. Hal ini dilakukan karena panggung tersebut tidak tertutup atap atau bertipe panggung terbuka. Walaupun hujan turun, perhelatan Festival Tlatah Bocah tetap berjalan dengan baik dan meriah. Hal ini dibuktikan dengan tingginya antusias masyarakat yang datang untuk menonton. Bahkan yang menonton tidak hanya warga Desa Sumber, tetapi dari luar Magelang bahkan ada yang dari luar negeri.
Selain pertunjukan, di Festival Tlatah Bocah XII juga menghadirkan lokakarya dengan berbagai kegiatan dari berbagai komunitas dalam negeri seperti dari Jawa Tengah, DIY, Banten, dan Jakarta hingga luar negeri seperti Jepang. Kebanyakan kegiatan lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan krativitas anak-anak dengan membuat berbagai prakarya. Di sini anak-anak diajarkan berbagai keterampilan seperti lukis kaos, daur ulang, dan lain-lainnya.(Fajrin)