Agroforestri : Jembatan antara Pelestarian Lingkungan dan Masyarakat

Agroforestri atau dikenal juga sebagai wanatani merupakan sistem pengelolaan lahan yang mengkombinasikan tanaman pertanian dan tanaman kehutanan maupun hewan ternak. Praktek agroforestri yang menerapkan keberagaman jenis tanaman atau polikultur dapat mendukung upaya konservasi lingkungan. Selain itu, sistem agroforestri mendukung keberlangsungan perputaran roda ekonomi masyarakat dengan keberagaman hasil panen.

            Menurut De Foresta & Michon, 1997 (dalam Widiyanto, 2016), agroforestri dapat digolongkan menjadi dua sistem yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.

(1) Sistem agroforestri sederhana biasanya ditanami dengan tanaman semusim dengan cara tumpangsari, namun dalam perkembangannya dalam masyarakat terkadang tumpangsari juga menyertakan tanaman tahunan. Tanaman semusim yang biasanya ditanam dalam sistem agroforestri sederhana antara lain singkong, jagung, padi gogo, kacang, dan lain sebagainya. Sedangkan tanaman tahunan biasanya karet, cengkeh, jati, mahoni, maupun tanaman pagar yang juga berfungsi sebagai pakan ternak seperti lamtoro maupun gamal.

(2) Sistem agroforestri kompleks mempunyai ciri-ciri kenampakan fisik dan dinamika vegetasi di dalamnya yang menyerupai hutan alami primer maupun sekunder. Tumbuhan utama yang banyak ditanam merupakan pepohonan dengan selingan tanaman perdu, liana, maupun tanaman musiman. Contohnya yaitu repong damar di Krui, Pesisir Barat, Lampung yang menanam damar sebagai tanaman utama dan diselingi tanaman lain.

Tanaman cengkeh dan sengon. Di strata bawah terdapat rumput dan talas-talasan

Marseno (2004) mengemukakan tentang sistem agroforestri berbasis pelestarian lingkungan, yaitu: Riverian Buffer Forest (hutan penyangga tepi sungai) dan windbreaks. Riverian Buffer Forest berfungsi untuk menjaga ekosistem sekitar sungai dengan mencegah terjadinya erosi dan melindungi keanekaragaman flora fauna yang ada di daerah tersebut. Sedangkan windbreaks berfungsi untuk memecah angin kencang agar dapat mengurangi resiko kerusakan tanaman dari angin, kegagalan penyerbukan, dan mengurangi penguapan air akibat angin kencang. Tanaman pelindung ditanam di sekitar tanaman utama yang biasanya rentan rusak akibat tiupan angin kencang.

Tanaman sengon dengan diselingi kaliandra, kelapa, pisang, dan aren

Bagaimana sistem agroforestri dapat turut serta dalam pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitarnya? Dalam sistem agroforestri, tumbuhan yang ditanam sangat beragam baik dalam jenis maupun stratanya. Kompleksitas vegetasi mulai dari tanaman pohon hingga rumput dapat mencegah lahan dari bahaya erosi, sebagai daerah tangkapan air hujan, pengikat karbon, dan habitat hidup berbagai jenis satwa. Dengan semakin beragamnya tanaman di lahan dengan sistem agroforestri, keanekaragaman jenis fauna yang menggantungkan hidup juga semakin beragam. Selain berperan dalam pelestarian lingkungan dan konservasi, agroforestri juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan dan hasil tanaman pangan yang beragam. Beragamnya jenis tanaman dalam lahan sistem agroforestri baik tanaman semusim maupun tahunan, akan dapat menyediakan sumber pendapatan masyarakat dalam jangka waktu yang lama dan berkelanjutan.

Nurina Indriyani / Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *