Kecintaan pada Plastik

Siapa yang tidak tahu plastik? Hampir setiap hari kita menjumpainya di toko-toko, warung makan, bahkan bertebaran di jalan-jalan sebagai sampah. Bahkan di media sosial dan internet kita dapat melihat begitu banyak foto-foto maupun video lingkungan dan satwa yang terimbas sampah plastik hingga menimbulkan kematian pada satwa tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan masyarakat dalam penggunaan plastik masih sangat tinggi. Masalah yang saat ini timbul dengan konsumsi plastik yang tinggi terutama kemasan plastik sekali pakai adalah munculnya sampah baik di daratan, sungai, lautan, bahkan lapisan es di pegunungan terkontaminasi oleh mikroplastik.

 Sejarah penemuan plastik tercatat pada tahun 1862 ketika Alexander Parkess memamerkan material yang disebut ‘parkesine’ dalam London International Exhibition. Parkesine terbuat dari selulosa yang merupakan bahan organik. Plastik sintetis pertama ditemukan pada tahun 1907 oleh kimiawan asal Belgia yaitu Leo Baekeland. Plastik sintetis ini disebut dengan fenol formaldehida atau nama pasarnya ‘bakelite,’ dan menjadi sangat terkenal pada masa tersebut. Ilmuwan kimia organik dari Jerman bernama Hermann Staudinger pada tahun 1920 mempublikasikan penemuannya bahwa plastik merupakan polimer. Hingga akhirnya pada 1970-an penggunaan plastik semakin meluas dan berkembang di seluruh dunia.

Namun sangat disayangkan dengan kegunaannya yang begitu banyak, plastik menimbulkan permasalahan tersendiri di masa kini. Material plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terdegradasi, sehingga apabila sampah plastik tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain itu, degradasi plastik menjadi partikel-partikel yang lebih kecil juga menjadi momok berbahaya baik bagi lingkungan maupun makhluk hidup termasuk manusia. Plastik dengan ukuran lebih kecil ini dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : makroplastik (ukuran > 5 mm), mikroplastik (ukuran 0.1 µm –  5mm), dan nanoplastik (ukuran 0.1 µm). Mikroplastik dapat termakan oleh ikan, udang, kepiting maupun biota sungai dan laut lainnya yang apabila dikonsumsi manusia maka akan masuk ke dalam pencernaan manusia. Bahkan mikroplastik juga ditemukan dalam garam laut. Padahal menurut penelitian, mikroplastik dapat membawa serta pestisida dan senyawa kimia berbahaya lainnya.

Dewasa ini, berbagai inovasi alternatif berupa plastik ramah lingkungan (biodegradable plastic) sebagai pengganti kantong plastik dan kemasan plastik mulai bermunculan. Salah satunya kantong plastik berbahan selulosa singkong, gelas berbahan dasar rumput laut yang dapat dimakan, pengganti kemasan styrofoam berbahan corn strach, dan lain sebagainya. Namun untuk menjadikannya sepopuler plastik yang ada sekarang tentunya merupakan proses yang panjang. Apalagi harganya tidak semurah plastik-plastik yang beredar saat ini.

Memilih menggunakan sedotan plastik sekali pakai atau sedotan yang ‘reusable’?

Setelah mengetahui fakta tentang keberadaan plastik dan mikroplastik, kita dapat mulai mengurangi penggunaannya dalam keseharian kita. Setidaknya mengurangi kemasan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan kemasan lain yang dapat dipakai berulang kali. Sebagai contoh menolak menggunakan kantong plastik dengan membawa tas belanja sendiri, menyediakan kotak makan sendiri ketika membeli makanan, mengganti sedotan plastik sekali pakai dengan sedotan stainless yang dapat dipakai berulang-kali, serta menggunakan piring / gelas / mangkuk yang terbuat dari kaca atau stainless daripada berbahan plastik untuk meminimalisasikan dampak mikroplastik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *