Kepak Capung di Banyuwangi

Pada tanggal 26 – 28 Juli 2019, perwakilan dari Yayasan Kanopi Indonesia mengikuti Jambore Capung III di Banyuwangi, Jawa Timur yang diselenggarakan atas kerjasama mahasiswa/i Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Indonesia Dragonfly Society, Capung Indonesia, dan pihak-pihak lain. Rangkaian acara dimulai dengan seminar yang diselenggarakan di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Pembukaan acara diawali dengan penampilan lagu “Untring-Untring” dan tarian tradisional dari Banyuwangi yaitu Tari Gandrung yang sekaligus mengiringi kedatangan para narasumber seminar. Seminar membahas tiga tema besar yaitu Peran Capung dalam Kebudayaan Masyarakat Banyuwangi yang disampaikan oleh Bapak Hasan Basri dari Dewan Kesenian Blambangan dan Lembaga Masyarakat Adat Using, Capung dan Perubahan Lingkungan yang disampaikan oleh Prigi Arisandi dari Ecoton, dan Dr. Suputa dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang menyampaikan tema Capung dan Pertanian.

                Bapak Hasan Basri mengungkapkan kedekatan antara masyarakat Banyuwangi dengan ‘dhudhuk’ atau capung. Salah satunya tercermin dalam prosesi pernikahan masyarakat Using (baca : Osing) yaitu “Perang Bangkat” yang diselenggarakan apabila dalam pernikahan tersebut terdapat anak bungsu dalam keluarganya.  Pihak mempelai laki-laki harus membuka ‘selambu’ agar diterima oleh pihak perempuan. Salah satu syaratnya yaitu pihak mempelai laki-laki memberikan sesuatu kepada pihak mempelai perempuan. Persyaratan tersebut akan diterima ketika pihak laki-laki memberikan ‘endhas dhudhuk contreng’ (kepala capung) yang terbuat dari tempurung kelapa dan menyerupai kepala capung. Kepala capung ini secara simbolis menunjukkan keberlangsungan keturunan kehidupan serta simbol kedewasaan, kelurusan pikiran, dan kemauan yang kuat.

                Sebagaimana telah diketahui bahwa capung merupakan salah satu bioindikator kesehatan lingkungan khususnya air di sekitarnya. Menurut Prigi Arisandi, pengecoran daerah tepian sungai dapat mengubah kondisi habitat serangga-serangga yang hidup di sekitar sungai menjadi tidak sehat. Salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat rumah buatan/artifisial untuk serangga berupa bambu dan batu yang disusun berselang dan ditanam di tepi sungai. Rumah artifisial ini dapat mengendapkan kerikil dan pasir, substrat kasar yang berperan sebagai pelindung nimfa serangga maupun jenis makrobenthos. Setelah 3 tahun pembuatan rumah artifisial, terjadi peningkatan substrat berupa pasir dan kerikil, sebanding dengan peningkatan keanekaragaman jenis serangga di sekitarnya.

                Dalam presentasi terkait capung dan pertanian, Dr. Suputa mengungkapkan bahwa capung sebagai salah satu serangga predator dapat membantu pemberantasan hama pertanian. Dewasa ini, penggunaan pestisida kimia sebaiknya dikurangi karena selain memusnahkan serangga hama, namun juga memusnahkan serangga yang sebenarnya bermanfaat bagi pertanian. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menanam tanaman refugia di sekitar sawah. Tanaman refugia berfungsi memberikan habitat dan perlindungan bagi serangga-serangga predator hama pertanian. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, terjadi peningkatan hasil panen setelah menggunakan sistem tanaman refugia.

Lomba Fotografi Capung dan Dragonfly Race di Sungai Kalongan.

Setelah seminar selesai, acara dilanjutkan dengan perjalanan menuju Desa Wisata Kemiren yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Desa wisata ini sudah disahkan sejak tahun 1995 dan terus berkembang hingga sekarang. Peserta jambore menikmati kopi, jajanan tradisional, dan makan malam di Sanggar Genjah Arum milik Pak Setiawan Subekti atau lebih akrab disapa Pak Iwan. Suasana khas pedesaan dan bangunan tradisional beserta perkakas ala pedesaan memberi kesan antik namun sederhana di sanggar ini. Selanjutnya peserta menginap di homestay yang ada di Desa Wisata Kemiren. Malam harinya diselenggarakan diskusi terkait laporan perkembangan capung di setiap daerah di Indonesia dan penjelasan teknis terkait dragonfly race & fotografi.

Potamarcha congener salah satu jenis capung yang dijumpai di Sungai Kalongan.

Keesokan harinya yaitu tanggal 27 Juli 2019, dragonfly race & fotografi dilaksanakan di Sungai Kalongan, Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Air sungai mengalir jernih dengan pepohonan di sekitar sungai menambah suasana sejuk dan membuat peserta betah berlama-lama mengamati, mendata, dan memotret capung. Tak dapat dipungkiri habitat ini mendukung berbagai jenis capung untuk hidup di sekitar sungai. Dari hasil checklist yang dilakukan oleh tim, lebih dari 20 jenis capung dapat dijumpai di sekitar Sungai Kalongan antara lain Amphiaeschna ampla, Tetrathemis irregularis, Trithemis festiva, Pantala flavescens, dan lain-lain. Menjelang sore hari, dragonfly race diakhiri dengan mengumpulkan data capung yang dijumpai tiap tim serta sketsa dan deskripsi dari jenis-jenis capung tersebut. Setelah itu peserta kembali ke Desa Kemiren untuk beristirahat. Malam hari, acara dilanjutkan dengan hiburan penampilan Pagi Tadi Band, sebuah grup band yang mengangkat isu-isu lingkungan dan sosial dalam lagu-lagunya. Acara diskusi malam kembali dilaksanakan dengan tema Perdagangan Satwa / CITES oleh Ibu Pungki Lupiyaningdyah dari LIPI, Perkembangan Daftar Capung di Indonesia oleh Nanang Kamaludin, dan Wacana Nama Indonesia Capung oleh Frendi Irawan. Setelah pengumuman pemenang masing-masing lomba, acara jambore ditutup dan peserta kembali ke homestay masing-masing.

                Menengok kembali rangkaian acara tersebut, kehidupan masyarakat Using pada khususnya dan Banyuwangi pada umumnya, sangat berkaitan erat dengan alam sekitarnya. Kita dapat mempelajari bahwa masyarakat mampu hidup harmonis berdampingan dengan alam sekitarnya tanpa mengesampingkan keuntungan ekonomis. Hal ini pun menjadi pekerjaan rumah bagi pemerhati keanekaragaman hayati dan lingkungan untuk memformulasikan strategi pelestarian alam/lingkungan yang berkelanjutan tanpa mengesampingkan kebutuhan ekonomi masyarakat dan budaya/adat istiadat dalam masyarakat.

Nurina Indriyani / Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *