Lebah Klanceng Penghasil Cita Rasa Keanekaragaman Tropis

Lebah klanceng atau stingless bee adalah jenis lebah dari suku Apidae yang berukuran kecil dan tidak memiliki sengat atau sering disebut trigona. Saat ini sudah mulai banyak di pelihara secara tradisional oleh masyarakat pedesaan sekitar kawasan hutan. Ada banyak jenis trigona di Indonesia  yang bisa dibedakan dari ukuran dan habitatnya. Di Desa Jatimulyo Kulon Progo setidaknya ada tiga jenis lebah yang tidak bersengat, namun yang paling umum dijumpai adalah Tetragonula laeviceps.

Stup atau sarang buatan lebah klanceng di salah satu halaman rumah warga di Desa Jatimulyo.

Secara alami lebah klanceng membuat sarang di lubang-lubang pohon, celah-celah dinding dan lubang-lubang pada bambu. Lebah klanceng menyimpan madu dalam kantong-kantong yang terbuat dari getah tanaman yang disebut pot madu. Sumber getah sangat berpengaruh terhadap karakteristik madu dalam hal ini adalah aroma. Klanceng merupakan kelompok lebah generalis yang artinya  mereka mengambil nectar sebagai bahan madu dari berbagai jenis tanaman berbunga, sehingga menghasilkan rasa yang kompleks dan unik. Rasa asam yang khas menjadi ciri khas dari madu klanceng, ini yang membedakan dengan jenis madu hutan lainnya. Beberapa penelitian menunjukan bahwa madu klanceng juga memiliki kandungan antimikroba yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan madu yang dihasilkan jenis lebah lainnya.

Proses pemindahan koloni dari satu stup ke stup lainnya merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dilakukan secara hati-hati

Kelompok Tani Hutan  Wanapaksi Jatimulyo telah mengembangkan budidaya lebah klanceng  dengan metode meliponikultur. Meliponikultur adalah upaya pemeliharaan lebah klanceng untuk tujuan peanfaatan lestari.  Produk-produk yang dihasilkan meliputi madu, roti lebah, propolis dan selain  itu lebah klanceng membantu proses penyerbukan tanaman. Pengembangan melipolikultur di Jatimulyo sudah sangat baik dan patut diapresisai, dimana mereka memeiliki prinsip yaitu: 1) Mengutamakan pelestarian dan penyelamatan lebah itu sendiri. 2) Menjadikannya salah satu bentuk kewirausahaan berbasis pengelolaan agroforestri. 3) Penggunaan teknologi sederhana, murah efektif , efisien dan ramah lingkungan. 4) Pemanfaatan lestari berupa produk madu dan jasa lingkungan. 5) Mendorong pemanfaatan madu untuk pemenuhan gizi keluarga. 6) Menjadikan lebah klanceng sebagai sahabat dan tidak menganggap sebagai mesin pencetak uang.

 Menjadi suatu peluang bisnis yang menjanjikan untuk melakukan kegiatan budidaya lebah klanceng, dikarnakan belum banyak yang mengetahui jika ada lebah penghasil madu yang ada di sekitar kita yang mudah dan aman untuk di budidayakan. Pada dasarnya keberadaan lebah klanceng merupakan potensi lokal yang bisa dimanfaatakan sebagi penggerak perekonomian masyarakat desa, dan menjadi salah satu bentuk usaha produktif yang sangat cocok bagi masyarakat di pedesaan terutama disekitar  kawasan hutan.

Teks oleh: Ujang Suhendar / Yayasan Kanopi Indonesia

Sumber: KTH Wanapaksi

Dokumentasi : Nurina Indriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *