Menu Olahan Mangrove Sebagai Altrenatif Untuk Berbuka Puasa

Bulan ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Selama satu bulan penuh umat muslim di seluruh dunia diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa. Masyarakat Indonesia memiliki suatu tradisi yang hanya ada di bulan ramadan yaitu ngabuburit. Asal kata ngabuburit yaitu burit yang dalam bahasa sunda berarti sore. Ngabuburit dapat diartikan sebagai kegiatan atau kebiasaan menunggu sore atau menunggu waktu berbuka. Banyak kegiatan yang biasanya dilakukan, dari sekedar nongkrong di alun-alun, jalan-jalan, ikut kajian di masjid-masjid sampai yang berburu takjil untuk berbuka puasa.

Kutawaru yang merupakan bagian dari Kecamatan Cilacap Selatan juga tak berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Setiap menjelang puasa warga dari anak-anak muda di kelurahan tersebut turut serta ngabuburit menunggu bedug maghrib. Kebiasaan ngabuburit tersebut mendatangkan rezeki bagi sebagian warga untuk menjajakan menu berbuka puasa. Ada yang berbeda dengan menu takjil di Kutawaru. Beberapa ibu-ibu membuat berbagai macam olahan mangrove seperti menjajakan cendol mangrove. Es cendol banyak dicari masyarakat untuk menghilangkan dahaga selama seharian menjalankan ibadah puasa. Es cendol mangrove terbuat dari olahan buah mangrove Bruguiera sp.

Pembuatan cendol mangrove yang dilakukan oleh ibu-ibu di Kutawaru

Kutawaru merupakan suatu kawasan di Segara Anakan yang mempunyai hutan mangrove terluas di Jawa. Luasnya mencapai 15.145 ha di tahun 1979 dan mencapai 21.500 ha di tahun 1994. Di kawasan Segara Anakan dapat dijumpai 29 spesies mangrove, baik mangrove mayor, mangrove minor maupun mangrove asosiasi. Beberapa jenis yang dapat ditemui antara lain jenis Sonneratia alba, Sonneratia marina, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnoriza, Avicennia alba, Nypa frutican dan lain-lain. Saat ini keberadaan mangrove mulai dilirik masyarakat sebagai sesuatu yang berharga. Salah satunya untuk dimanfaatkan untuk olahan makanan takjil saat bulan Ramadan. Kesegaran dari cendol mangrove dengan rasa yang khas mampu menghilangkan dahaga selama seharian penuh menjalankan ibadah puasa.

Berjualan cendol mangrove di depan rumah menjadi menjadi rutinitas ibu-ibu di Kutawaru

Dulu, masyarakat belum mengetahui fungsi mangrove. Mereka memanfaatkannya sebagai kayu bakar sehingga banyak tanaman mangrove yang ditebang. Ada juga masyarakat yang memanfaatkannya untuk membuat bagian atap rumah. Namun setelah ibu-ibu di Kutawaru mendapat pelatihan tentang pengolahan buah mangrove, mereka mulai bergeliat untuk membuat aneka makanan hasil olahan buah mangrove termasuk cendol mangrove. Buah mangrove Bruguiera sp., mempunyai rasa dasar yang pahit sepet. Rasa sepet tersebut akibat kandungan tanin yang ada dalam buah mangrove. Agar buah mangrove bisa dinikmati tanpa rasa sepet, perlu beberapa perlakuan terhadap buah tersebut. Buah mangrove terlebih dulu dikupas kulitnya, kemudian direbus dalam panci besar dan ditambah arang batok kelapa. Fungsi arang batok kelapa yaitu untuk menghilangkan tanin dalam buah mangrove tersebut. Setelah perebusan dilanjutkan dengan perendaman selama dua hari. Hasil perendaman, barulah buah mangrove bisa digunakan untuk membuat tepung mangrove yang nantinya bisa digunakan untuk membuat berbagai makanan olahan.

Teks olah : Widodo Setyo P  / Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *