Monitoring Gelatik Jawa Di Jatimulyo Kulon Progo

Yayasan
Kanopi Indonesa bekerja sama dengan PT. Pertamina TBBM Rewulu dengan melibatkan Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo (MPBJ), melakasanakan program pelestarian burung Gelatik Jawa (Lonchura oryzivora), sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan khususnya pelestarian fauna terancam punah. Kegiatan Pelepasa liaran telah dilaksanakan pada tanggal 14 oktober 2018, sebagai tindak lanjut dari program pelepasliaran Gelatik Jawa, dilakukanlah monitoring yang dilaksanakan pada 18 maret 2019 di Desa Jatimulyo.

Cek lokasi perjumpaan Gelatik Jawa dimulai dari daerah Mabang dengan melakukan penandaan lokasi menggunakan GPS. kemudian dilakukan pengamatan di beberapa titik untuk mengecek keberadaan Gelatik Jawa, dari pengamatan lapangan di lokasi Mabang pada hari itu tidak dijumpai Gelatik Jawa. Pengambilan titik perjumpaan selanjutnya dilakukan di area pasar Cublak. Di dekat pasar Cublak terdapat tebing yang berpotensi menjadi sarang dan tempat berlindung untuk Gelatik Jawa. Namun, berdasarkan pengamatan pada hari tersebut tidak dijumpai individu Gelatik Jawa.

 

Menelusuri jejak Gelatik Jawa

Berdasarkan wawancara dengan warga sekitar, Gelatik Jawa sudah tidak pernah terlihat lagi di lingkungan sekitar. Menurut salah seorang responden yang berusia 60 -70 tahun, dulu Gelatik Jawa masih mudah dijumpai, namun sekarang tidak ada lagi karena habis akibat perburuan. Beliau bahkan bisa menjelaskan perbedaan antara burung jantan dan burung betina. Karena dulu beliau juga pernah menjual burung Gelatik Jawa. Namun, sekarang untuk dapat melihat Bentet kelabu (pentet) saja sudah sulit apalagi Gelatik Jawa. Informasi terkait pelepasliaran Gelatik Jawa juga kemungkinan belum tersebar luas di setiap orang Desa Jatimulyo dan sekitarnya.

Monitoring dilanjutkan ke area yang berpotensi menjadi tempat mencari pakan yaitu area persawahan. Lokasi sawah berada Tlogoguo, Purworejo, Jawa Tengah. Dari hasil pengamatan, tidak dijumpai Gelatik Jawa. Burung yang dijumpai di titik Tlogoguo 1 yaitu Bondol Jawa dan Kareo Padi. Menurut informasi dari masyarakat sekitar, belum pernah ada yang menjumpai Gelatik Jawa di sekitar lokasi tersebut. Titik Tlogoguo 2 merupakan area persawahan yang sedang dikembangkan menjadi objek wisata sawah. Dari hasil pengamatan tidak dijumpai keberadaan gelatik jawa, namun dijumpai bondol jawa. hasil wawancara dengan warga sekitar sawah Tlogoguo 2, belum pernah menjumpai Gelatik Jawa di lokasi tersebut.

 

Tebing di dekat Pasar Cublak yang berpotensi menjadi tempat bernaung dan bersarang Gelatik Jawa.

Dahulu burung endemik Jawa ini sangat mudah di temukan di area pertanian dan pekarangan, namun sekarang keberadaannya mulai sulit di temui karena penangkapan untuk diperdagangkan. Sejak 1994 International Union for Conservation Nature and  Natural Resources (IUCN) menetapkan statusnya rentan (Vlunerable/UV). Tidak mudah menelusuri jejak Gelatik Jawa yang sudah hampir punah, perlu adanya kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan khususnya para pemerhati lingkunan yang peduli terhadap nasib kelestarian burung berkaki merah ini. Semoga pada monitoring berikutnya kita bisa menjumpai burung ini terbang bebas di habitat alaminya.

Teks oleh: Nurina /Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *