Moringa, Tanaman Mistik Dengan Segudang Manfaat

Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Kelor memiliki nama lokal yang berbeda disetiap daerahnya seperti moringa, ben-oil tree, drumstick tree (Inggris), sajian (Malaysia), malunggay (Filipina), serta marum (Thailand). Di Indonesia kelor juga dikenal dengan berbagai nama seperti kelor (Jawa, Sunda, Bali, dan Lampung), kerol (Buru), maronggih (Madura), kelo (Gorontalo), molting (Flores), keloro (bugis), kawano (Sumba), dan ongge (Bima).

Hampir seluruh bagian tanaman kelor dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, dan bunga. Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi (malnutrisi) (Broin, 2010). Daun kelor dikenal sebagai Miracle Tree karena tingginya nutrisi yang dikandung sehingga memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang medis. Berdasarkan hasil penelitian Leone et al. (2015) daun kelor memiliki kandungan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B3, Vitamin C, Calcium, Protein, Chromium, Copper, Iron, Magnesium, Manganese, Potassium, Zinc, Alanine, Arginine, Aspartic Acid, Cystine, Glutamic Acid, Glycine, Histidine, Serine, Proline dan Tryrosine. Selain itu, daun kelor juga mengandung berbagai macam asam amino, antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan methionin (Simbolan et al. 2007).

Selain sebagai konsumsi daun kelor juga telah mulai dikembangkan sebagai pengawet makanan alami untuk memperpanjang umur simpan produk pangan segar. Hasil penelitian Shah et al,. (2015) menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor atau yang dikenal dengan istilah Moringa Leaf Extract (MLE) dapat mempertahankan warna daging segar dalam kemasaan MAP selama 12 hari penyimpanan pada suhu dingin. Hal ini disebabkan karena daun kelor memiliki kandungan senyawa phenolic, senyawa ini dikenal mampu mencegah terjadinya oksidasi lemak pada daging segar selama penyimpanan. Komponen bioaktif yang cukup tinggi, seperti asam askorbat, carotenoid dan senyawa phenolik sangat berperan dalam memperpanjang masa simpan produk (Muthukumar et al., 2012). Namun sayangnya, di Indonesia pemanfaatan tanaman ini sebatas sebagai pakan ternak, masyarakat masih sedikit yang memanfaatkan daun tanaman ini sebagai sumber pangan sayur. Tanaman ini justru sering dikaitkan sebagai media pengobatan supranatural  (klenik/mistis).

Pemanfaatan kelor di masyarakat.

Berdasarkan penelitian Izzatul Bahriyah dkk (2015) tentang Studi Etnobotani Tanaman Kelor (Moringa oleifera ) di Desa Somber Kecamatan Tambelangan Kabupaten Sampang Madura, masyarakat memanfaatkan bagian tanaman ini untuk pelbagai keperluan antara lain; pagar taman, obat tradisional, sayur konsumsi, pakan ternak, pengkilap batu akik, dan ritual adat. Bagian tanaman kelor yang dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain; akar, batang, daun, dan buah. Sebagai obat tradisonal kelor dipercaya berkhasiat mengobati sakit demam, sawan, batuk, sakit perut, panambah stamina, kejang-kejang, panas dalam, sakit kepala, gizi buruk, asam urat, kencing manis, gonfok dan tipes. Untuk sayur konsumsi, masyarakat Desa Somber biasa memasak daun sayuran ini menjadi sayur bening. Sedangkan untuk ritual adat digunakan sebagai pelengkap sesaji, nadzar, penghilang pengasihan (ilmu hitam), memandikan mayat, memperlancar proses melahirkan, kesurupan, dan pagut.

Desiawati, 2013 melakukan penelitian dengan judul “Tinjauan Konservasi Kelor (Moringa oleifera Lam.): Studi Kasus di Desa Cikarawang Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor” hasilnya bentuk pemanfaatan kelor yang dilakukan oleh masyarakat desa antara lain pemanfaatan kelor untuk ritual adat sebesar 34%, pengobatan 42%, pangan 12%, dan untuk pagar sawah 12%. Untuk ritual adat, tanaman ini digunakan untukkegiatan rasulan dan membayar nadzar.

Rasulan adalah sebuah kegiatan ritual adat berupa upacara adat sebelum dilaksanakannya suatu pesta pernikahan atau hajatan. Adapun bahan-bahan yang menjadi syarat dalam ritual ini adalah segenggam daun kelor yang telah direbus, bawang merah yang dibakar, cabe merah bakar, terasi bakar, rebus telur ayam kampong, dan nasi congcot (nasi yang berbentuk kerucut). Setelah bahan-bahan disiapkan, maka bahan-bahan itu akan dibacakan bacaanbacaan doa oleh sesepuh kampung tersebut. Adapun maksud dari acara ini adalah memohon keselamatan kepada Tuhan agar acara yang dimaksud dapat berjalan lancar dan selamat.

Nadzar digunakan sebagai bukti rasa terima kasih dan menepati janji dengan apa yang dijanjikan pada waktu seseorang sakit. Syarat dalam ritual ini, yaitu segenggam daun kelor yang telah direbus, bawang merah yang dibakar, cabe merah bakar, terasi bakar, rebus telur ayam kampong, dan nasi congcot (nasi yang berbentuk kerucut). Setelah bahan-bahan siap maka akan dibacakan doa-doa oleh sesepuh sebagai tanda terimaksih kepada Tuhan atas kesembuhan yang telah diberikan.

Penelitian penggunaan kelor dalam masyarakat juga dilakukan oleh Faiqoh, dkk, 2018 dengan judul penelitian “Tumbuhan – tumbuhan dalam kajian etnobotani adat kematian di ek-karisidenan Surakarta”. Hasilnya persentase penggunaan kelor sebagai uborampe dalam adat kematian di daerah EksKarisidenan Surakarta adalah 57.14% yang tersebar di lima wilayah, yakni Karanganyar, Surakarta, Boylali, Klaten dan Sukoharjo. Tumbuhan ini berperan sebagai uborampe (pengharum) dalam upacara kematian. Cara penggunaanya daun dipotong kecil-kecil lalu dibungkus dalam mori.

Arti istilah
penyakit pagut = apabila seseorang telah sembuh dari penyakitnya, lalu dating warga menjenguk, maka penyakit(nya) akan kambuh kembali.

Teks oleh: Roesma /Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *