“Ngabeungkat Dawuan” Kearifan Lokal Masyarakat Dayeuhluhur Cilacap

Berbicara tentang Indonesia, tiap daerah tentu memiliki budaya dan kekhasan masing-masing. Satu daerah bisa saja mempunyai beberapa budaya yang berbeda. Seperti halnya Cilacap. Meskipun secara wilayah berada di Jawa Tengah, namun, di beberapa bagiannya masih kental budaya Sundanya. Salah satu daerah di Cilacap yang sangat kental budaya Sundanya yaitu daerah Dayeuhluhur. Dayeuhluhur merupakan wilayah cikal bakal Cilacap. Pengaruh kerajaan Galuh dan Cirebon masih sangat kental disana. Catatan sejarah dalam bentuk tutur ceritapun masih dipegang secara turun-temurun.

Salah satu kearifan lokal masyarakat Dayeuhluhur yang masih terjaga sampai saat ini yaitu Ngabeungkat dawuan. Dawuan dalam bahasa Sunda berarti hulu bendungan irigasi atau solokan untuk kawasan persawahan. Sedangkan, Ngabeungkat artinya memperbaiki (solokan atau bendungannya) sambil berdoa supaya air yang mengalir lancar dan membawa berkah bagi tanah persawahan. Secara keseluruhan, Ngabeungkat dawuan yaitu adat atau tradisi dalam budaya masyarakat di kalangan masyarakat Sunda Dayeuhluhur-Cilacap dimana sekelompok masyarakat yang memiliki lahan persawahan, secara bersama-sama membersihkan selokan (dalam bahasa Sunda Dayeuhluhur ditulis solokan) irigasi serta hulu bendungan dan kemudian melakukan upacara adat tertentu (misal memotong kambing) di bagian hulu bendungan tersebut.

Beberapa desa yang melakukan tradisi tersebut yaitu desa Datar, Bingkeng dan Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur. Tradisi Ngabeungkat dawuan dilakukan setahun sekali menjelang musim mengolah sawah untuk tanam padi anteb/rendeng (musim penghujan). Upacara Ngabeungkat dawuan dilakukan di hulu bendungan dimana kegiatan tersebut dilakukan oleh warga pemilik sawah yang sawahnya dialiri oleh solokan tersebut.

Persiapan penyembelihan kambing hitam merupakaan bagian dari tradisi
Ngabeungkat dawuan.

Pada tradisi Ngabeungkat dawuan, masyarakat pemilik sawah datang ke dawuan bendungan dengan membawa seekor kambing hitam yang dibeli secara gotong royong. Sebagian masyarakat memotong kambing dan mempersiapkan peralatan masak, sebagian lainnya membersihkan solokan dari rumput dan sumbatan tanah atau kayu. Bagian-bagian tertentu dari kambing, seperti kepala, kulit, kaki, jeroan dan darah dikubur bersama makanan sesaji tertentu oleh juru kunci di hulu solokan. Kemudian acara dilanjutkan dengan berdoa bersama. Bagian daging kambing dimakan secara bersama-sama oleh masyarakat dan sebagian daging kambing dibawa pulang untuk dibagikan ke masyarakat yang tidak bisa hadir di upacara karena lokasinya yang terkadang sangat jauh.

Dalam tradisi Ngabeungkat dawuan terkandung nilai-nilai kearifan lokal berupa gotong royong, memelihara sumber daya air, rasa bersyukur, ilmu musim tepat tanam dan memelihara kelestarian ketahanan pangan.

Teks oleh Widodo S /Yayasan Kanopi Indonesia

Refference:
Ceceng Rusmana; Ketua Adat Desa Hanum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *