Pemanfaatan Pohon Aren Oleh Masyarakat Adat Di Indonesia

Enau atau aren (Arenga pinnata, adalah  tumbuhan  yang masuk dalam keluarga palma familia arecaceae yang banyak dimanfaatkan selain kelapa. Pohon enau tumbuh di kawasan yang  terletak antara garis lintang 20º LU – 11ºLS meliputi : India, Srilangka, Banglades, Burma, Thailand, Laos, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Hawai, Philipina, Guam dan berbagai pulau disekitar Pasifik. Di Indonesia tanaman aren banyak terdapat dan tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara, khususnya di daerah perbukitan dan lembah.

Pohon ini mampu tumbuh pada segala macam kondisi tanah, baik tanah berlempung, berkapur maupun berpasir. Namun, pohon aren tidak tahan pada kondisi tanah dengan kadar asam tinggi. Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal pada tanah yang memiliki ketinggian di atas 1.200 mdpl dengan suhu udara rata-rata 250 celcius. Di luar itu, pohon aren masih dapat tumbuh namun kurang optimal dalam berproduksi.

Pohon aren memiliki banyak nama lokal  antara lain:  bak  juk (Aceh), paula (Karo), bagot (Mandaling), anau , biluluak (Sumbawa), nao (Bima), Kolotu (Sumba), moke (Flores), seho (Manado), saguer (Minahasa). Sageru (Maluku), ngkonau (Kaili), moka, moke, tuwa, tuwak (Nusa Tenggara), akol, akel, akere, inru, indu (Sulawesi), Sedangkan dalam bahasa asing (Lutony, 1993; Ramadani et al.  2008) dikenal dengan nama aren palm, sugar palm,  gomoti palm (Inggris), palmier a sucre,  areng  (Perancis), suikerpalm (Belanda) dan zucerpalme (Jerman).

Hampir semua bagian tubuh aren dapat dimanfaatkan, mulai dari daun, buah, hingga batang kayunya.  Masyarakat adat di Indonesia menggunakan bagian tubuh aren untuk bermacam macam aktivitas baik untuk upacara adat, bahan pangan, dan struktur bangunan. Dalam artikel ini akan diulas berbagai pemanfaatan aren oleh masyarakat  Sunda  dan Banten berdasarkan tiga penelitian mahasiswa.

1. Masyarakat Adat Kampung Pulo yang terdapat di Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.

Pemanfaatan aren oleh masyarakat  Adat kampung pulo ini telah dikaji oleh mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.  hasil penelitian Nurlina Ramidiati,  Hexa Apriliana , dan  W Yayu pada tahun 2013 itu bemengungkap kembali pemanfaatan aren oleh masyarakat Adat Kampung Pulo Kabupaten garut yang telah dilakukan secara turun temurun.  Dalam penelitiannya yang berjudul Etnobotani Mayarakat Adat Kampung Pulo itu  dijelaskan bahwa  di kampung pulo  aren telah dimanfaatkan  untuk beragam keperluan  salah satunya untuk  kosmetik. Daun aren telah digunakan untuk penghilang noda hitam pada kulit. . Sarerang  kawung” atau abu dari tangkai daun dan pelepah aren yang  dibakar bisa digunakan untuk sebagai bedak sehari-hari.  Bedak ini dipercaya mampu, menghilangkan jerawat, mengobati penyakit cacar, dan luka bakar.Caranya, daun aren  dibakar lalu diambil abunya kemudian  dioleskan pada noda yang ingin dihilangkan. Konon Para wanita kerajaan Sunda zaman dulu  telah memanfaatkan ini agar kulitnya tetap halus dan bercahaya. 

Selain kosmetik masyarakat Kampung pulo juga memanfaatkan tulang daun aren untuk dibuat sapu lidi atau disebut harupat yang biasa digunakan dalam upacara pernikahan. Menurut berbagai sumber Harupat adalah semacam lidi yang terdapat pada jalinan ijuk. Harupat dalam upacara pernikahan adat Sunda adalah lambang sifat lelaki yang gampang patah, keras dan hitam. Sikap pemarah lelaki yang digambarkan dengan nyala lidi harupat pada akhirnya harus bertekuk dengan sikap lembut wanita. Api dari lidi harupat menggambarkan sifat amarah lelaki dan menjadi padam ketika disiram dengan air yang melambangkan kelembutan seorang wanita.

2. Masyarakat Kasepuhan (Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat).

Pemanfaatan aren oleh masyarakat kasepuhan banyak dibahas dalam penelitian yang berjudul  Kelembagaan Lokal dalam Pemanfaatan Aren dan Peran an Hasil Gula Aren bagi Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Kasepuhan (Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat). Judul tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan Andra Noviantri mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor pada tahun 2011.  Penelitian tersebut mengungkapkan  bahwa pemanfaatan aren  telah dilakukan sejak awal komunitas Kasepuhan terbentuk. Bahkan pohon aren merupakan bagian dari keberadaan masyarakat Kasepuhan dari dulu hingga sekarang.

Dalam Penelitian itu disebutkan bahwa hampir semua semua bagian pohon aren telah dimanfaatkan  oleh masyarakat kasepuhan. Bunga aren diambil niranya untuk  dibuat gula dan cuka, buah aren (kolang kaling) untuk dikonsumsi sebagai makanan, akarnya digunakan untuk obat tradisional, daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok, dan batangnya  diambil umbinya untuk membuat sagu aren, bagian yang  keras pada batangnya digunakan untuk berbagai macam peralatan dan bangunan.

Banyaknya manfaat ini telah membuat  pohon aren sangat dihormati‘ oleh masyarakat Kasepuhan. Bahkan salah satu wejangan dari masyarakat Kasepuhan yang ditularkan secara turun temurun juga berkaitan dengan filosofi pohon aren yaitu Nasehat untuk  hidup dengan memberi banyak manfaat seperti pohon aren dan selalu melestarikan pohon aren agar membawa berkah bagi kehidupan masyarakat Kasepuhan.

3. Masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih, Desa Sindanglaya, Kabupaten Lebak, Banten

Tak jauh dari hasil penelitian di atas  penelitian Mahasiswa Fakultas kehutanan  IPB Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata Nira Febriyanti,  juga telah meneliti tentang pemanfaatan aren oleh masyarakat kasepuhan tetapi dilakukan dilokasi lain di Kabupaten Lebak Banten. Judul penelitiannya adalah Etnobotani dan Potensi Aren (Arenga pinnata Merr.) pada Masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih, Desa Sindanglaya, Kabupaten Lebak, Banten.

Dalam penelitian ini   juga mengungkaplan masyarakat disana telah  memposisikan aren sebagai pohon yang cukup istimewa karena seluruh bagian dari pohon aren bermanfaat. Orangtua atau kokolot di masyarakat Kasepuhan sering menuturkan bahwa “Kawung mangrupa tangkal kahirupan, lamun kapanggih kawung moal aya nu balangsak.

Semua bagian pohon aren dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, antara lain air nira untuk gula aren, buah aren (kolang kaling) untuk dikonsumsi sebagai makanan, akarnya untuk obat tradisional, daun muda atau janur untuk pembungkus kertas rokok, batangnya untuk kayu bakar atau suluh, pelepah kering untuk bedak, ijuk untuk sapu dan tali, serta tulang daun untuk sapu lidi. Masyarakat memanfaatkan air nira untuk dijadikan gula aren dalam bentuk gula cetak atau kojor

Aren merupakan salah satu hasil hutan atau kebun yang dimanfaatkan masyarakat Kasepuhan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu hasil aren pun ternyata memiliki nilai ekonomis sehingga masyarakat Kasepuhan pun mulai memanfatkan aren sebagai sumber pendapatan bagi rumah tangga. Masyarakat Kasepuhan cenderung menjadikan kegiatan bertani menjadi mata pencaharian pokok. Ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat Kasepuhan bahwa siapa yang menggarap lahan pertanian dan bermatapencaharian sebagai petani, tentu hidupnya tidak akan kekurangan.

Teks oleh : Roesma / Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *