Perjumpaan dengan Si Jambul

Jatimulyo merupakan desa ramah burung yang berada pada ketinggian sekitar 700 mdpl dan berjarak ±35 km dari Kota Yogyakarta. Desa ramah burung ini telah disahkan berdasarkan Peraturan Desa yang mengatur bahwa siapapun tidak diperbolehkan berburu dan atau menangkap burung di Desa Jatimulyo. Selain itu, Desa Jatimulyo yang berada di Kabupaten Kulon Progo ini juga menawarkan berbagai objek wisata alam seperti Goa Kiskendo, Taman Sungai Mudal, Air Terjun Kembangsoka, dan wisata alam bebas lainnya termasuk pengamatan burung. Hawa sejuk di desa ini didukung oleh sistem berkebun agroforestri yang diterapkan masyarakat.

Pada bulan Januari 2019, Kanopi Indonesia dan Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo (MPBJ) yang sedang melakukan monitoring Gelatik Jawa menjumpai salah satu raptor yaitu Accipiter trivirgatus di Dusun Gunungkelir, Jatimulyo. Burung ini hinggap sendiri di pohon dan sesekali terbang ke pohon yang lain. Untuk mengamati elang-alap jambul pengamat harus menjaga jarak dan tidak membuat kebisingan agar burung tersebut tidak terganggu, karena burung ini cukup sensitif dengan kehadiran manusia. Dahulu elang-alap jambul tersebar luas di hutan dataran rendah dan perbukitan di Jawa, namun sekarang jarang dan langka (MacKinnon et al.,2010). Berdasarkan IUCN Redlist, status konservasi elang-alap jambul adalah Least Concern dengan tren populasi yang terus menurun akibat kerusakan habitat. Berikut peta penyebaran global meliputi Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Elang-alap jambul merupakan burung pemangsa dengan ukuran tubuh 30-46 cm, tubuh tegap dengan jambul yang jelas. Bulu tubuh bagian atas pada jantan dewasa yaitu coklat abu-abu dengan garis-garis pada sayap dan ekor, bulu tubuh bagian bawah berwarna merah karat, bulu dada bercoretan hitam, dan terdapat garis-garis tebal hitam melintang pada bulu bagian perut dan paha yang putih. Bulu leher berwarna putih dengan setrip hitam menurun ke arah tenggorokan dan ada  dua setrip kumis. Pada individu remaja dan betina, bulu seperti jantan dewasa tetapi coretan dan garis-garis melintang pada bulu tubuh bagian bawah berwarna coklat serta bulu tubuh bagian atas berwarna coklat pucat (Mackinnon et al., 2010).

Perjumpaan dengan elang-alap jambul menegaskan bahwa area hutan perbukitan di Desa Jatimulyo sangat penting bagi kelangsungan hidup berbagai jenis burung yang saat ini sudah jarang dijumpai di lokasi lain. Baik sebagai habitat bersarang maupun mencari pakan alami. Oleh karena itu, habitat tersebut harus dijaga kelestariannya oleh berbagai pihak dan lapisan masyarakat.

Teks oleh: Nurina / Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *