Upacara Adat Merti Dusun Desa Jatimulyo

Warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo antusias mengikuti upacara Merti Dusun, Jumat pagi (5/4/2019). Desa yang berbatasan dengan Purworejo ini memiliki tradisi merti dusun,  yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi merti dusun di adakan setiap tahunnya bertepatan dibulan Rajab, sebelum memasuki bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Tahun ini, tidak semeriah tahun kemaren, karena memang merti dusun yang sekarang dikemas secara sederhana “Ungkap bapak Paridi” selaku warga lokal.

Agenda tahunan ini dilaksanakan satu hari penuh, dengan rangkaian acara seminggu sebelum pelaksanaan Merti Dusun diawali dengan melakukan bersih kampung, bersih makam dan menggelar doa bersama.

 

Upacara merti dusun diakhiri dengan doa bersama yang di pimpin oleh salah satu sesepuh desa.

Setelah warga dan para sesepuh sudah berkumpul, arak-arakan membawa gunungan yang berisikan hasil pertanian. Gunungan dibawa menuju tempat yang dianggap sebagai tempat dimana para panduhulunya berkumpul. Lokasi upacara merti dusun berada dibawah lereng gunung Kelir. Perjalan dari lokasi awal menuju kelokasi tujuan, jarak tempuh kurang lebih lima belas menit dengan berjalan kaki.

Kemudian sampai di lokasi mereka melangsungkan selamatan, dan mengakhiri dengan rebutan gunungan. Usai acara ritual dan berdoa bersama dilanjut dengan atraksi seni dari wilayah setempat seperti jatilan, dan malam harinya dilanjutkan dengan ketoprak yang diperankan oleh kelompok seni pamong Desa.

Selayang Pandang Merti Dusun

Merti Dusun (Bersih Dusun), kearifan lokal warisan leluhur yang masih lestari sampai saat ini. Merti Dusun salah satu upacara adat Jawa yang menjadi agenda rutin tahunan, sebagai tradisi bentuk syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta. Merti Dusun sendiri memiliki penamaan berbeda-beda tergantung lokasi pelaksanaannya, misalnya di daerah pegunungan merti dusun dinamakan labuhan gunung, di daerah pantai dinamakan labuhan laut atau sedekah laut, sedangkan di daerah pertanian dinamankan Merti Dusun atau sedekah bumi (Bersih Dusun).

Bersih dusun, sesuai dengan namanya upacara ini bertujuan untuk membersihkan desa dari roh-roh halus yang membahayakan penduduk desa. Maka perlu dilakukan Slametan yang dinamakan sedekah bumi, dengan Danyang Desa. Danyang desa adalah roh atau makhluk halus pelindung desa. Bagi penduduk desa, tujuan lain upacara ini adalah membersihkan diri dari kejahatan, dosa, dan segala sesuatu yang menyebabkan kesengsaraan.

Pelaksanaan Slametan dan persembahan makanan umumnya berlangsung di suatu tempat dekat makam danyang desa, biasanya makam pendiri desa yang bersangkutan. Upacara dapat pula dilakukan di Masjid, atau rumah kepala desa, apabila tempat dekat makam danyang desa tidak memungkinkan.

Upacara bersih dusun selalu dilakukan dalam bulan Sela yaitu bulan kesebelas dalam kalender Jawa, atau bulan Sawal kalender Arab. Namun tanggal pelaksanaannya berbeda di setiap desa, sesuai dengan tradisi setempat. Bentuk-bentuk perayaannya (kenduri) juga dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik pribadi yang diberikan penduduk desa kepada danyang desa yang bersangkutan, maka keputusan pelaksanaan upacara biasanya ditentukan dan disepakati oleh sesepuh Desa.

Upacara merti dusun itu sendiri penuh akan simbol dan makna budaya yang dalam. Simbol-simbol tersebut mengajarkan bagaimana cara hidup manusia di dunia. Penyelenggaraan upacara merti dusun yang melibatkan hampir seluruh desa itu dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan sosial diantara sesama warga desa.

Teks oleh Rahman/Yayasan Kanopi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *